Konten dari Pengguna

Unisma Dorong Kemandirian Pangan Melalui Pelatihan Budidaya Cabai

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Malang, 12 Agustus 2025 – Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang (Unisma) terus berkomitmen dalam mendukung tercapainya kemandirian pangan di Indonesia, salah satunya melalui program pengabdian kepada masyarakat yang diterapkan di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Program ini dilaksanakan pada 10 Agustus 2025, bertempat di Balai RW 11 Merjosari, dengan fokus pada pelatihan penerapan teknologi pemupukan dan pengairan tanaman cabai di lahan pekarangan.

Tim pengabdian dosen Fakultas Pertanian Unisma yang terdiri dari Dr. Dwi Susilowati, dosen Program Studi Agribisnis, dan Abdul Basit, S.P., M.P., dosen Program Studi Agroteknologi, memimpin kegiatan pelatihan ini. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan budidaya cabai di kalangan anggota Kelompok Tani Kenanga Merjosari dan Pokja 3 PKK RW 11. Dalam sambutannya, Dr. Dwi Susilowati menyatakan bahwa pelatihan ini akan membantu petani setempat untuk memanfaatkan teknologi yang tepat dalam pemupukan dan pengairan tanaman cabai agar hasil budidaya menjadi lebih efisien.

"Kami ingin memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat tentang cara bertani cabai yang benar, baik dari segi pengairan maupun pemupukan yang akan meningkatkan hasil pertanian mereka," ujar Dr. Dwi Susilowati.

Pelatihan ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta, yang terdiri dari anggota kelompok tani dan warga RW 11, yang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan usaha pertanian di lahan pekarangan mereka. Salah satu topik yang dibahas adalah pemupukan tanaman cabai yang memerlukan perhatian khusus terkait dengan karakteristik morfologi, fisiologi, dan syarat tumbuh yang spesifik. Oleh karena itu, teknik pemupukan dan pengairan yang tepat sangat penting untuk memastikan hasil yang optimal.

“Pemupukan yang tepat terdiri dari beberapa tahap. Di tahap awal pertumbuhan, kita memberikan pupuk Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) dengan perbandingan seimbang. Kemudian, pada tahap pertumbuhan vegetatif, kita menggunakan pupuk dengan perbandingan 20-10-10 untuk mendukung proses fotosintesis yang baik,” jelas Abdul Basit, S.P., M.P., yang juga turut mengajarkan teknik pemupukan pada peserta pelatihan.

Foto: Istimewa

Tak hanya itu, pengairan yang tepat juga menjadi salah satu fokus dalam pelatihan ini. Mengingat lahan pekarangan yang terbatas, maka teknik pengairan harus disesuaikan dengan media tanam polybag, yang memungkinkan para petani dapat bertani cabai dengan lebih efisien meski di lahan terbatas. Abdul Basit menambahkan, “Pengairan yang tepat harus memperhatikan beberapa faktor, seperti kualitas air, kondisi tanah, dan cuaca yang ada, untuk memastikan tanaman cabai dapat tumbuh dengan baik.”

Selain penyampaian materi yang teoritis, pelatihan ini juga menyertakan sesi praktik langsung yang memungkinkan peserta untuk lebih memahami proses pemupukan dan pengairan cabai. Dalam sesi ini, peserta belajar bagaimana mencampurkan media tanam yang tepat, serta cara memberikan pupuk yang sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman cabai.

Pelatihan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari peserta, terutama dalam penerapan teknologi pemupukan yang lebih efisien. Salah satu peserta, Siti Nurjanah, anggota Kelompok Tani Kenanga Merjosari, menyampaikan apresiasi atas pelatihan ini. "Sebelumnya kami hanya menggunakan metode pemupukan yang seadanya, tapi sekarang saya jadi tahu bagaimana cara yang lebih tepat dan efisien dalam memberikan pupuk untuk cabai, dan ini sangat membantu kami,” ungkapnya.

Keberhasilan program ini menjadi contoh nyata bagi pengembangan pertanian berbasis lahan pekarangan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Dr. Dwi Susilowati menjelaskan bahwa dengan adanya teknik pertanian yang tepat, lahan pekarangan yang sempit pun bisa dimanfaatkan untuk budidaya cabai dengan hasil yang optimal. “Meskipun lahan terbatas, dengan teknologi yang tepat seperti pemupukan dan pengairan yang baik, lahan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan, bahkan bisa menghasilkan keuntungan ekonomi bagi keluarga petani,” tambahnya.

Fakultas Pertanian Unisma tidak hanya berfokus pada pengajaran di kampus, tetapi juga berkomitmen dalam memberdayakan masyarakat melalui program pengabdian yang langsung memberikan manfaat. Melalui program ini, Unisma berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, terutama petani, dalam mengelola lahan pertanian mereka dengan cara yang lebih modern dan efisien.

"Ini adalah bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi kami, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Kami berusaha agar masyarakat dapat memperoleh pengetahuan praktis yang aplikatif di lapangan. Kegiatan ini merupakan langkah awal yang baik untuk lebih memberdayakan petani di daerah ini," ujar Dr. Dwi Susilowati.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kenanga Merjosari, Iwan Suryadi, mengatakan bahwa meskipun pelatihan ini sangat bermanfaat, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, seperti kurangnya akses terhadap teknologi yang lebih maju dan pembiayaan untuk peningkatan lahan. Namun, ia berharap bahwa dengan berjalannya waktu, kelompok tani dapat mengimplementasikan teknik yang telah dipelajari dan meningkatkan hasil pertanian mereka.

“Harapan kami ke depan adalah bisa memperluas penggunaan teknologi pertanian, agar tidak hanya cabai yang bisa ditanam, tetapi juga tanaman lain yang bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan memberi dampak positif bagi ekonomi petani di sini,” tutup Iwan.

Pelatihan yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian Unisma ini adalah contoh nyata dari penerapan ilmu pengetahuan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Dengan mengajarkan teknologi pemupukan dan pengairan yang tepat, petani di Kelurahan Merjosari diberikan alat yang dapat meningkatkan produktivitas mereka dan membuka peluang baru untuk mencapai kemandirian pangan. Melalui kegiatan seperti ini, Unisma semakin memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat secara langsung.

Sumber: timesindonesia.co.id