Konten dari Pengguna

USK Perkuat Peran dalam Pemerataan Dokter Spesialis, Buka Enam Prodi Baru

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Banda Aceh, Indonesia – Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) terus memperkuat kontribusinya dalam upaya pemerataan tenaga medis di Indonesia. FK USK, yang telah berdiri sejak tahun 1982, kini mengelola 27 program studi (Prodi) yang mencakup jenjang sarjana, pendidikan dokter spesialis, dan subspesialis. Sebagai langkah akselerasi, FK USK akan membuka enam program studi tambahan, yang terdiri dari tiga spesialis-1 dan tiga subspesialis di bidang kedokteran.

Dekan FK USK, Safrizal Rahman, menyampaikan bahwa pembukaan enam prodi baru ini bertujuan untuk memperkuat kualitas pendidikan kedokteran dan mendukung pemerataan distribusi tenaga medis di seluruh Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang kekurangan dokter spesialis. Prodi baru yang akan dibuka terdiri dari Spesialis-1 Bedah Saraf, Spesialis-1 Kesehatan Mata, dan Spesialis-1 Bedah Anak, serta Subspesialis Bedah Digestif, Jantung dan Pembuluh Darah, serta Obstetri dan Ginekologi.

“USK berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang lebih merata, dan saat ini kami juga menerima mahasiswa internasional, termasuk delapan dari Palestina dan satu dari Korea Selatan,” ujar Safrizal Rahman dalam acara yang berlangsung di kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 7 September 2025.

Pembukaan enam prodi baru ini akan menjadi langkah besar dalam menciptakan kesetaraan akses pendidikan dokter spesialis. Marwan, Rektor USK, menekankan bahwa pemerataan pendidikan dokter spesialis adalah suatu hal yang penting untuk menjangkau daerah-daerah yang kekurangan tenaga medis. “Masih ada ruang besar untuk menambah peserta PPDS (Pendidikan Profesi Dokter Spesialis), tetapi hal ini membutuhkan kemitraan yang kuat dengan pemerintah daerah,” tegas Marwan.

Dalam rangka mendukung pemerataan tenaga medis, USK bekerja sama dengan pemerintah daerah, khususnya dengan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, serta lembaga-lembaga terkait lainnya untuk menciptakan kesempatan pendidikan yang lebih terjangkau dan berkualitas bagi calon tenaga medis di seluruh Indonesia. “Kami berharap kemitraan ini akan membuka lebih banyak peluang pendidikan untuk generasi muda yang ingin berkontribusi dalam sektor kesehatan,” tambahnya.

Namun, di balik rencana ambisius tersebut, FK USK juga menghadapi beberapa tantangan yang perlu diatasi bersama. Salah satunya adalah keterbatasan sarana dan prasarana, yang menjadi hambatan dalam proses pendidikan kedokteran di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas pendidikan medis yang memadai. Selain itu, ada pula tantangan terkait dengan jabatan fungsional dosen, komitmen staf rumah sakit dalam mengajar, dan tingginya retribusi pendidikan kedokteran yang menjadi beban bagi banyak mahasiswa.

“Kami berharap forum ini dapat menghadirkan solusi bersama untuk mengatasi tantangan tersebut. Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta peningkatan kualitas dosen dan tenaga pengajar, menjadi bagian penting dari upaya ini,” ujar Safrizal Rahman, yang juga menyoroti pentingnya penguatan kualitas pengajaran untuk menghasilkan dokter spesialis yang berkualitas.

Dukungan konkret terhadap pendidikan kedokteran juga datang dari Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang memastikan bahwa RSUD Dr. Meuraxa, rumah sakit yang bekerja sama dengan FK USK, akan memberikan kemudahan biaya pendidikan bagi mahasiswa kedokteran. “Kami akan memangkas biaya retribusi pendidikan hingga 70 persen, bahkan nol rupiah untuk program pendidikan dokter spesialis,” ujar Illiza Sa’aduddin Djamal.

Tindakan ini merupakan langkah nyata dari pemerintah daerah untuk mendukung pendidikan kedokteran di Aceh, serta membantu mengurangi beban biaya yang seringkali menjadi kendala bagi mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan kedokteran di daerah.

Pada kesempatan yang sama, Tri Hanggono Achmad, Koordinator Tim Kajian Pendidikan Tenaga Medis dan Kesehatan, menyampaikan beberapa strategi penting dalam mempercepat pemerataan dokter spesialis di Indonesia. Salah satunya adalah penguatan Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dirancang untuk mendukung pemerataan distribusi pendidikan tenaga medis dan penguatan kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan institusi kesehatan.

“Kami percaya bahwa lima pilar yang kami ajukan akan menjadi solusi dalam mempercepat pemerataan dokter spesialis di Indonesia. Melalui penguatan SKA, peningkatan kapasitas pendidikan, dan kerja sama lintas sektor, kami yakin bisa mencapainya,” kata Tri Hanggono Achmad.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) juga berperan aktif dalam menyediakan dukungan kebijakan komprehensif, seperti regulasi untuk pendirian program studi, skema konsorsium, dan rekognisi pembelajaran lampau untuk staf pengajar dokter spesialis dan subspesialis. Selain itu, Kemendiktisaintek juga mendukung kolaborasi lintas sektor dengan lembaga-lembaga seperti LPDP, BPJS Kesehatan, Kemendagri, Kemenhan, dan sektor swasta.

Melalui pembukaan enam program studi kedokteran baru dan upaya pemerataan pendidikan dokter spesialis, Universitas Syiah Kuala terus menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan tenaga medis yang terampil dan terdistribusi dengan baik di seluruh Indonesia. Tantangan terkait sarpras dan biaya pendidikan menjadi perhatian utama, tetapi dengan dukungan dari pemerintah daerah, universitas, serta institusi terkait, diharapkan solusi-solusi yang konstruktif dapat segera ditemukan.

Pemerataan tenaga medis yang berkualitas adalah salah satu langkah strategis dalam mewujudkan Indonesia Sehat dan memastikan akses kesehatan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang kekurangan tenaga medis terlatih. FK USK dan Universitas Syiah Kuala berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mencetak dokter spesialis yang siap mengabdi dan berkontribusi dalam sektor kesehatan di seluruh Indonesia.

Sumber: jakarta.suaramerdeka.com