Konten dari Pengguna

Pajak dan Kepercayaan: Aku Hanya Ingin Tahu Ke Mana Uangnya Pergi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kasih Kristiani Maruao tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Kasih Kristiani Maruao

Ilustrasi tangan rakyat menyerahkan uang ke tangan pemerintah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tangan rakyat menyerahkan uang ke tangan pemerintah

Aku ingat pertama kali gajiku dipotong untuk pajak. Waktu itu aku masih baru bekerja, dan jujur saja — aku tidak benar-benar tahu uang itu nanti digunakan untuk apa. Aku hanya melihat angka potongan di slip gaji, lalu selesai. Tidak ada penjelasan, tidak ada rasa terlibat.

Mungkin banyak orang yang merasakan hal sama. Kita bukan tidak mau bayar pajak, tapi kita ingin tahu ke mana uang itu pergi. Kita ingin percaya bahwa uang yang kita sisihkan dengan ikhlas benar-benar kembali dalam bentuk jalan yang lebih baik, sekolah yang layak, dan pelayanan publik yang manusiawi.

1. Rasa Curiga yang Tumbuh dari Ketidaktahuan

Orang memegang slip gaji atau membayar pajak online.

Selama ini, pemerintah lebih sering menekankan kewajiban membayar pajak, tanpa cukup menjelaskan manfaat nyatanya. Akibatnya, pajak terasa seperti sesuatu yang jauh — formal, dingin, dan penuh pasal. Padahal, di balik setiap rupiah yang disetorkan, ada harapan kecil dari rakyat agar hidup mereka sedikit lebih baik.

Rasa curiga itu bukan muncul karena rakyat bandel. Ia tumbuh dari ketidaktahuan, dari minimnya komunikasi dua arah. Jika rakyat tahu pajaknya dipakai untuk membangun sesuatu yang nyata, mungkin kepercayaan itu akan tumbuh sendiri, tanpa perlu ancaman sanksi.

2. Saatnya Pajak Bicara dengan Hati, Bukan Hanya Data

Aku percaya, pajak bisa jadi alat memperkuat hubungan antara rakyat dan negara — kalau dikelola dengan hati.

Bayangkan kalau ada laporan pajak versi rakyat: sederhana, visual, bisa dibaca siapa pun, bukan cuma ekonom atau pejabat. Bayangkan kalau sekolah-sekolah mengajarkan arti pajak sejak dini, bukan cuma rumus menghitungnya.

Pajak seharusnya bukan sekadar angka dalam tabel, tapi cerita tentang gotong royong nasional. Tentang rasa memiliki yang tumbuh karena tahu uang yang kita beri punya arah yang jelas.

3. Membangun Kepercayaan, Sedikit Demi Sedikit

Kepercayaan tidak dibangun lewat poster “Bayar Pajak Tepat Waktu”, tapi lewat rasa keterlibatan.

Lewat pengalaman nyata ketika kita melihat rumah sakit negeri benar-benar melayani dengan baik, jalan diperbaiki tanpa korupsi, dan anak-anak bisa sekolah gratis dengan fasilitas layak.

Jika negara mau lebih terbuka dan jujur, rakyat juga akan lebih mau percaya. Karena pada dasarnya, kami tidak menolak memberi — kami hanya ingin tahu bahwa pemberian kami berarti.

4. Pajak yang Dekat Adalah Pajak yang Dirasakan

Aku bukan tak mau bayar pajak. Aku hanya ingin tahu ke mana uang itu pergi.

Aku ingin merasa bahwa setiap rupiah yang disetorkan bukan hilang begitu saja, tapi kembali dalam bentuk keadilan dan kesejahteraan.

Sebab pada akhirnya, pajak bukan sekadar kewajiban — tapi wujud cinta rakyat pada negaranya.