Dosa Metafisisis Kita: Membaca Karhutla dan Banjir Lewat Karl Jaspers

Alumni Filsafat Universitas Indonesia Inisiator Forum Musyawarah Kebangsaan Penulis Buku "Indonesia Di Kepala Gue"
Ā·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dwi Gema Kumara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Kalimantan, langit berwarna jingga bukan karena senja. Di Padang, jalanan belajar menjadi sungai hanya dalam enam jam. Negeri ini sedang memainkan dua lagu sekaligus, satu dengan api, satu dengan air. Kita, para penonton, sibuk mencari tombol skip. Esai ini mencoba bertanya sesuatu yang tidak nyaman: ketika bencana berulang sampai terasa seperti jadwal, di mana letak kepedulian kita? Jawabannya saya cari lewat Karl Jaspers, filsuf yang percaya bahwa manusia baru sungguh menjadi dirinya ketika terantuk pada batas. Ia juga percaya bahwa salah satu dosa terdalam kita adalah diam di hadapan penderitaan sesama.
Peta Duka: Apa Kata Data
Mulai dari api. Kementerian Kehutanan mencatat karhutla sepanjang JanuariāJuni 2026 sudah melahap sekitar 107 ribu hektare, dengan Kalimantan Barat sebagai wilayah terdampak terluas. Memasuki puncak kemarau angka itu menggelembung. Metro TV melaporkan 18.065 titik panas secara nasional pada 28 Agustus, naik dari 14.078 sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah melonjak dari 5.041 ke 7.703 titik. Hitungan titik panas berbeda antarlembaga, jadi bacalah sebagai arah, bukan angka final. Di Banjarbaru kualitas udara sempat masuk kategori Berbahaya, dan penerbangan ke Bandara Muara Teweh dibatalkan karena asap. Sekitar 5,4 juta warga di tujuh provinsi terdampak, dan lebih dari 570 ribu siswa di 3.524 sekolah belajar dari rumah. Asapnya menyeberang sampai Malaysia, Brunei, dan Filipina.
Di Bangka Belitung apinya lebih kecil tetapi rajin datang: Bangka Tengah (25 Juli), Bangka Barat (3 September), dan Belitung Timur (4 September, sekitar 17,8 hektare). Riau, per 4 September, mencatat sekitar 18.882 hektare lahan terbakar. Status siaga darurat di Kalimantan Tengah dan Selatan berlaku sampai 31 Oktober, dan di Kalimantan Barat sampai 15 November. BMKG memperkirakan kemarau bertahan hingga pertengahan atau akhir Oktober.
Lalu air. Pada 3 Agustus, hujan lebat sekitar enam jam membuat sungai-sungai Padang meluap. Lima kecamatan terendam, air mencapai sekitar 150 sentimeter di beberapa titik, dan kendaraan hanyut. Ini bukan debut. Banjir bandang akhir November 2025 menewaskan 193 orang di Sumatra Barat menurut Pemprov per 2 Desember 2025. Bencana serupa di Sumut, Sumbar, dan Aceh disebut Bisnis.com menelan 604 korban jiwa. LBH Padang menegaskan bahwa banjir berulang tak cukup dijelaskan oleh hujan semata.
Secara nasional, BNPB mencatat 1.730 kejadian bencana hingga 7 September 2026, 627 di antaranya karhutla. Anggaran rutin BNPB tahun ini sekitar Rp1,055 triliun, dan lembaga itu mengajukan tambahan Dana Siap Pakai Rp5,67 triliun. Angka itu untuk 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang seluruhnya berstatus rawan.
Karl Jaspers dan Situasi Batas
Karl Jaspers punya istilah yang pas untuk hari-hari seperti ini: Grenzsituation, "situasi batas." Maut, penderitaan, pergulatan, dan kesalahan adalah situasi yang tidak bisa kita pindahkan, hindari, atau pecahkan seperti soal teknis. Kita hanya bisa menabraknya. Bagi Jaspers, justru di tabrakan itulah manusia berhenti sekadar Dasein, makhluk yang ada dan mengurus kebutuhan. Ia mulai menjadi Existenz: diri yang memilih, menanggung, dan tidak bisa digantikan siapa pun.
Di sini ada ironi yang menarik. Data di bagian sebelumnya adalah wilayah yang Jaspers sebut Weltorientierung, orientasi dunia. Isinya pengetahuan objektif tentang apa yang terjadi, dikumpulkan oleh "kesadaran pada umumnya" yang anonim dan bisa diganti siapa saja. Hotspot, hektare, dan sentimeter genangan semuanya benar dan perlu. Tetapi 18.065 titik panas tidak pernah terbatuk di tengah malam. Angka tidak punya paru-paru.
Kepedulian, dalam kacamata Jaspers, tidak lahir dari pengetahuan itu saja. Ia lahir ketika seseorang yang disapa oleh keadaan menjawab sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai fungsi.
Jaspers juga cemas pada zaman yang menelan manusia ke dalam tatanan massa dan teknis. Orang menjadi roda yang sah-sah saja berputar asal prosedurnya lengkap. Kita kenal tabiat itu: status siaga, posko, rapat koordinasi, helikopter water bombing. Semuanya perlu. Namun prosedur yang benar bisa berjalan tanpa seorang pun benar-benar terusik. Bencana, sebagai situasi batas, menuntut lebih dari rapat. Ia menuntut apa yang Jaspers sebut komunikasi eksistensial: perjumpaan antardiri yang saling menyentuh, bukan sekadar pertukaran informasi.
Kepedulian yang Berhenti di Layar
Mari jujur, dengan sedikit senyum getir. Kepedulian kita punya siklus yang rapi. Hari pertama: foto langit jingga dengan caption "Pray for Kalimantan". Hari ketiga: tagar. Hari kelima: pindah topik, karena algoritma, seperti negara, punya anggaran perhatian yang terbatas. Asap boleh bertahan berminggu-minggu, sementara simpati kita biasanya pulang dalam hitungan hari.
Kita juga ahli menamai. Ada "status siaga darurat" yang berlaku dari Juli sampai Oktober, darurat yang punya tanggal kedaluwarsa seperti yoghurt. Ada "musim karhutla" dan "musim banjir," seolah api dan air adalah tamu langganan yang kebetulan lupa kirim kabar. Padahal keduanya buah dari cara kita membuka lahan, menata sungai, dan menunda pekerjaan rumah. Hujan, si tersangka tunggal, selalu dihadirkan di ruang sidang. Pemberi izin, penata ruang, dan pembakar lahan jarang dipanggil. LBH Padang sudah mengingatkan bahwa banjir berulang adalah persoalan ekologis yang belum selesai.
Ada pula ironi angka. Anggaran rutin BNPB 2026 sekitar Rp1,055 triliun untuk menjaga negeri kepulauan ini dari api, air, dan gempa sekaligus. Dibagi ke 514 kabupaten/kota, kira-kira Rp2 miliar per daerah. Itu pun kalau dibagi rata, dan bencana tidak pernah membagi rata. Kita fasih memadamkan, kikuk mencegah. Mencegah tidak ada fotonya.
Dan jangan lupa kita, warga yang peduli lewat tombol share. Sebagian donasi dan sebagian rendang yang dimasak untuk pengungsi memang tulus dan mengenyangkan. Saya tidak bermaksud mengejek mereka yang turun tangan. Yang saya persoalkan adalah kepedulian yang selesai bersama notifikasi. Dalam kosakata Jaspers, itu kepedulian tingkat Dasein: hadir selama nyaman, pergi ketika mulai menuntut sesuatu dari diri kita.
Empat Wajah Kesalahan
Setelah Perang Dunia II, dalam Die Schuldfrage, Jaspers memilah kesalahan menjadi empat. Kesalahan kriminal menyangkut pelanggaran hukum yang bisa diadili pengadilan. Kesalahan politis menyangkut tanggung jawab warga atas tindakan negara tempat ia hidup. Kesalahan moral menyangkut perbuatan pribadi yang hanya bisa dihakimi hati nurani. Yang keempat paling sunyi dan paling relevan bagi kita: kesalahan metafisis, yakni runtuhnya solidaritas mutlak antarmanusia. Jika ketidakadilan atau penderitaan terjadi di depan mata kita, padahal ada yang bisa kita lakukan, lalu kita memilih diam, kita ikut berutang.
Lihat bagaimana bencana kita terbelah ke empat laci itu. Mereka yang sengaja membakar lahan adalah urusan hukum. Izin, tata ruang, dan pengawasan hulu adalah urusan politis, dan di situ kita semua, sebagai warga, ikut menanggung karena negara ini kita pilih atau kita biarkan. Gaya hidup dan konsumsi yang rakus lahan adalah urusan moral. Sisanya, sepotong rasa bersalah yang tak beralamat, adalah yang metafisis. Kita tahu ada anak yang batuk di Palangkaraya, ada keluarga di Padang yang rumahnya terendam lagi setelah baru dibersihkan, dan kita menggulir layar.
Kesalahan metafisis tidak bisa dipidana, tidak bisa disidangkan, bahkan tidak bisa ditebus dengan satu kali donasi. Ia hanya bisa dijawab dengan berubah. Karena itu Jaspers tidak menawarkan hukuman, melainkan pembersihan diri: kesediaan memikul bahwa dunia yang rusak ini juga dunia buatan kita. Itu tidak enak. Itu sebabnya ia jarang jadi tren.
Hujan yang Belum Tentu Datang
BMKG bilang kemarau mungkin berakhir sekitar pertengahan atau akhir Oktober. Kita menunggu hujan seperti menunggu kabar dari seseorang yang sudah lama tidak menelepon: separuh berharap, separuh takut ia datang terlalu deras. Itulah negeri ini sekarang, terjepit antara api yang menunggu hujan dan hujan yang menunggu giliran menjadi banjir.
Jaspers tidak menjanjikan jalan keluar yang rapi. Situasi batas memang tidak bisa dilewati, hanya bisa dihadapi. Tetapi di sanalah, katanya, diri yang sebenarnya terbangun. Bukan ketika semuanya baik-baik saja, melainkan ketika kita tidak lagi bisa berpura-pura tidak mendengar. Maka kepedulian yang layak disebut kepedulian bukan yang paling ramai, melainkan yang paling tahan lama. Ia tetap menyala setelah tagar padam, menagih tata ruang dan izin, dan menolak menjadikan darurat sebagai kebiasaan.
Semoga hujan datang tepat waktu dan secukupnya. Dan semoga, ketika asap sudah menipis dan lumpur sudah dikeruk, kita tidak ikut menguap bersamanya.
