Ada Anomali Harga Pangan, Pemerintah akan Tindak Tengkulak Nakal

Menteri Perdagangan Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut terdapat anomali yang menyebabkan ketimpangan harga pangan di antara produsen dengan konsumen, yakni keberadaan middleman atau tengkulak.
Menurut Tito, melalui penelusuran Bulog, pemerintah menemukan keberadaan anomali di antara harga pangan di tingkat produsen dan konsumen.
“Artinya ada middleman, ada middle party di situ, yang tidak juga melakukan proteksinya yang terjadi kenaikan,” sebut Tito dalam konferensi pers usai Rakor Menko Pangan: Keamanan Pangan di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (26/10).
Tito melanjutkan permasalahan ini telah dibahas bersama lembaga-lembaga terkait, termasuk Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) dalam melakukan penindakan.
“Jadi, kita akan melakukan penertiban. Tapi, baru keras begitu saja harganya sudah turun,” ujarnya.
Senada, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengamini pernyataan Tito. Menurut Amran ketimpangan harga ini ironis. Ia mencontohkan, harga telur ayam di tingkat peternak dibanderol Rp 20-21 ribu, tetapi harga di konsumen dipatok mulai Rp 40-45 ribu.
“Ini di atas harga ekonomi. Ada anomali. Sudah mulai menindak. Baru diumumkan harga sudah turun. Jadi harga turun di konsumen. Jadi, ini kabar baik," kata Amran.
Sebelumnya, Tito menyebut inflasi tercatat 3,28 persen secara tahunan (year-on-year) dan tercatat 0,32 persen secara bulanan (month-to-month) pada Agustus-September 2026, dengan sektor makanan dan minuman sebagai salah satu penyumbang utama. Kenaikan terutama terjadi pada komoditas cabai rawit dan cabai merah akibat kekeringan yang mengurangi produksi di sejumlah daerah.
Sementara, harga beras relatif stabil, tapi masih terdapat sejumlah daerah dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET). Bulog telah melakukan intervensi di 134 daerah untuk menangani kondisi tersebut. Adapun harga daging ayam ras dan telur ayam ras yang sempat naik sekitar dua pekan sebelumnya mulai mengalami penurunan.
