ADB Kucurkan USD 218 Juta untuk Bangun 37 Laboratorium BPOM RI

Asian Development Bank (ADB) mengalokasikan pendanaan mencapai USD 218 juta atau setara Rp 3,9 triliun (kurs Rp 18.060 per dolar AS) untuk mendukung pembangunan 37 laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pendanaan itu dijalankan melalui proyek bertajuk Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug Project (BPOM Project). ADB melihat komitmen BPOM untuk mempertahankan standar global yang konsisten, seperti World-Listed Authority (WLA).
“Pekerjaan BPOM sangat bergantung pada karyawan serta kapasitas dan peralatan teknologi yang digunakan di laboratorium. Dan kami sangat senang bisa berpartisipasi dengan BPOM memperkuat semua ini,” kata Direktur ADB untuk Indonesia Bobur Alimov saat kunjungan ke Balai Besar BPOM Makassar, Kamis (22/10).
Proyek BPOM dari ADB ini akan mendukung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam memperluas jaringan laboratorium pangan dan obat yang ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan kapasitas regulasi. ADB menilai sistem regulasi yang kuat memegang peranan kunci dalam menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat produk pangan dan obat, yang berkontribusi pada pencapaian hasil kesehatan masyarakat yang diharapkan, serta mendorong inovasi, investasi, dan perdagangan.
Proyek BPOM dari ADB mencakup pembangunan dan penyediaan peralatan bagi laboratorium dan kantor untuk memperkuat kapasitas pengujian di tingkat lokal, sekaligus mengurangi kebutuhan rujukan sampel dan mempercepat waktu penyelesaian pengujian. Prinsip laboratorium yang ramah lingkungan (green) dan tangguh (resilient) akan diterapkan demi mendukung pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, sistem informasi digital akan ditingkatkan untuk memfasilitasi pertukaran data, integrasi sistem, dan analisis big data, yang pada akhirnya akan mengoptimalkan pengawasan pasar berbasis risiko serta pengawasan terhadap lokapasar (marketplace) daring. Proyek ini juga akan memperkuat kapasitas teknis maupun manajerial staf BPOM dalam menjalankan fungsi-fungsi regulasinya.
Rencana Strategis BPOM 2025–2029 menekankan kalau pengawasan yang efektif harus didukung oleh laboratorium yang kuat, digitalisasi tata kelola pengujian, pemanfaatan data berbasis risiko, serta pengambilan keputusan yang cepat berdasarkan hasil pengujian, yang semuanya ditopang oleh sumber daya manusia yang kompeten.
BPOM Makassar menjadi salah satu tempat yang mendapat bantuan laboratorium dari ADB. Khusus untuk anggaran pembangunan laboratorium BPOM di Makassar, ADB mengucurkan Rp 50 miliar.
Kepala Balai Besar POM di Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa menjelaskan laboratorium ramah lingkungan akan beroperasi secara lebih efisien dari segi penggunaan energi, seperti air dan listrik, serta tidak mencemari lingkungan.
“Untuk fasilitas pembangunan green lab, termasuk juga nanti fasilitas di dalamnya seperti alat-alat pendukung, yang harapannya nanti bisa makin memperkuat kapasitas Balai Besar BPOM Makassar,” tutur Yosef.
