Bahlil Buka Opsi Stop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka opsi untuk menyetop atau tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. Hal ini dilakukan karena ia ingin memenuhi terlebih dahulu kebutuhan dalam negeri.
Adapun menurut Bahlil hal itu memang belum pasti, namun begitu ia memang ‘memikirkan’ opsi tersebut.
“Jadi kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga. Karena kan harus survival kan, harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri ya. Gitu ya,” kata Bahlil di Istana Merdeka dikutip Kamis (22/10).
Di samping itu, Bahlil juga merespons mengenai pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut Indonesia sedang ada dalam kondisi survival. Menurutnya, pesan itu dapat diartikan agar para kementerian mampu memiliki program untuk ‘survival’.
“Ya memang harus kita survival. Kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai presiden, pasti apa yang disampaikan Bapak Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks implementasi program untuk menuju pada survival,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga mengungkapkan bahwa harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) terus mengalami tren kenaikan. Meski demikian, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi.
Bahlil mengakui kenaikan ICP berkonsekuensi pada membengkaknya alokasi anggaran subsidi energi.
"Kami sedang memperhitungkan harga ICP global yang naik terus. Kenaikan ICP ini kemungkinan besar menambah beban top up subsidi, tetapi pemerintah berkomitmen tidak ada kenaikan harga BBM subsidi," ujarnya.
Bahlil menjelaskan, rata-rata ICP saat ini berada di kisaran USD 92 per barel. Selama ICP masih terjaga di bawah level USD 100 per barel, harga BBM bersubsidi dipastikan tetap stabil.
