Kumparan Logo

BEI Bidik 23 UKM Binaan Siap IPO Tahun Depan, Aset Rp 50-Rp 250 Miliar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Shutterstock

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 23 usaha kecil dan menengah (UKM) yang telah mengikuti program pembinaan atau coaching clinic, bisa mengakses pasar modal pada tahun depan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengatakan, pembinaan terhadap 23 UKM tersebut telah berlangsung selama setahun terakhir. Hampir seluruh perusahaan peserta program diperkirakan siap pada 2027.

“Memang dalam setahun terakhir ini ada kerja sama dengan UKM yang sudah dalam coaching clinic, ada 23 dan rasanya hampir seluruhnya dalam tahun depan harusnya sudah siap,” ujar Saidu kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta, Senin (2/11).

Meski demikian, Saidu menegaskan, BEI tidak semata-mata mengejar jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Bursa lebih mengutamakan kesiapan dan kualitas perusahaan sebelum masuk ke pasar modal.

“IPO itu adalah pilihan. Yang kita kejar adalah kualitas dari para perusahaan yang memang mereka ready untuk IPO atau ready untuk akses terhadap pasar modal,” katanya.

video story embed

Menurut Saidu, perusahaan yang ingin mencatatkan sahamnya di bursa tetap harus memenuhi ketentuan pencatatan yang berlaku. Kesiapan juga tidak hanya diperlukan sebelum IPO, tetapi harus berlanjut setelah perusahaan berstatus sebagai perusahaan publik.

“Yang harus kita siapkan, bukan mereka hanya siap sebelum IPO, tapi setelah menjadi perusahaan publik, mereka siap untuk menanggung kewajiban-kewajiban sebagai perusahaan publik,” jelasnya.

Dari sisi skala usaha, 23 UKM yang mengikuti pembinaan berada pada kategori perusahaan menengah dengan aset berkisar Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

Berdasarkan sektor usaha, sekitar 30 persen peserta berasal dari industri food and beverage (F&B), sementara 20 persen lainnya bergerak di industri fesyen. Peserta selebihnya berasal dari berbagai sektor usaha.