Kumparan Logo

CIMB Group Bantah Akan Privatisasi Saham CIMB Niaga

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi CIMB Niaga Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi CIMB Niaga Foto: Shutterstock

CIMB Group Holdings Berhad membantah kabar yang menyebut pihaknya berencana melakukan privatisasi saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).

CIMB menegaskan belum mengambil keputusan maupun mengajukan proposal formal terkait kemungkinan privatisasi saham CIMB Niaga.

“Grup belum mengambil keputusan maupun mengajukan proposal formal terkait kemungkinan privatisasi saham CIMB Niaga,” tulis manajemen CIMB dalam keterangannya, Kamis (22/10).

CIMB Niaga tetap menjadi bagian integral dari jejak operasional regional grup CIMB. CIMB juga menyatakan tetap berkomitmen melanjutkan kegiatan operasionalnya di Indonesia.

Selain itu, CIMB menyatakan akan terus memenuhi seluruh ketentuan regulator yang berlaku, termasuk persyaratan minimum free float atau batas minimum kepemilikan saham publik.

Pemenuhan ketentuan tersebut akan dilakukan secara tepat waktu dan terstruktur, di tengah pemberitaan mengenai kemungkinan privatisasi saham CIMB Niaga.

Dikutip dari the Edge Malaysia, CIMB Group sebelumnya dikabarkan sedang menjajaki opsi privatisasi CIMB Niaga.

Selain privatisasi, CIMB Group disebut mempertimbangkan opsi penempatan saham kepada investor strategis. CIMB Securities, divisi riset internal grup, menilai privatisasi sebagai opsi yang lebih strategis dan kredibel di antara alternatif yang dibahas.

Pertimbangan tersebut muncul setelah revisi ketentuan minimum free float di Indonesia. Ketentuan tersebut mengharuskan porsi saham publik CIMB Niaga mencapai minimal 12,5 persen pada Maret 2027 dan 15 persen pada Maret 2028. CIMB Group memiliki sekitar 91,4 persen saham CIMB Niaga.

Opsi privatisasi tersebut muncul di tengah tekanan pasar saham Indonesia yaitu adanya potensi perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari emerging market menjadi standalone market memicu aksi jual saham dan dinilai mengurangi daya tarik penerbitan saham baru.