Kumparan Logo

Danantara Luncurkan Program Beasiswa dan Program Air Bersih

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Dirjen Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes dr Yuli Farianti di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan. Foto: Danantara Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Dirjen Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes dr Yuli Farianti di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan. Foto: Danantara Indonesia

Danantara Indonesia Trust, yayasan filantropi independen dari Danantara Indonesia, menandai satu tahun perjalanannya. Momentum ini dipakai untuk memperluas kemitraan strategis di tiga bidang: pendidikan, kesehatan, serta air, sanitasi, dan higiene (WASH). Satu tahun pertama difokuskan untuk membangun fondasi. Kini, dengan semangat "From Commitment to Action", Danantara Indonesia Trust mulai menjalankan program bersama pemerintah, perguruan tinggi, organisasi pembangunan, filantropi, masyarakat sipil, dan sektor swasta.

CEO Danantara Indonesia sekaligus Pembina Danantara Indonesia Trust, Rosan Roeslani, mengatakan Danantara Indonesia mengelola aset negara untuk menciptakan nilai jangka panjang. Melalui Danantara Indonesia Trust, sebagian nilai itu didedikasikan untuk dampak sosial.

"Setiap program adalah investasi pada fondasi daya saing bangsa: generasi muda yang terdidik, tenaga kesehatan yang menjangkau wilayah paling membutuhkan, serta keluarga dengan akses air bersih dan sanitasi yang layak. Kami mengelolanya dengan disiplin yang sama seperti investasi lainnya, yakni terarah, terukur, dan berlandaskan tata kelola yang baik," kata Rosan dalam acara Danantara Indonesia Trust di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (15/10).

Memasuki tahun kedua, Danantara Indonesia Trust menjalankan tiga program strategis.

Pertama, Asa Nusantara. Program ini memberikan beasiswa bagi 800 mahasiswa S1 dan vokasi di bidang STEM dan ilmu kesehatan. Mitranya adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin. Penerima yang diprioritaskan adalah mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah, wilayah 3T atau pedesaan, dan wilayah terdampak bencana. Program ini juga memprioritaskan mahasiswa generasi pertama di keluarganya serta penyandang disabilitas. Penerima mendapat biaya pendidikan, biaya hidup, dan dukungan pengembangan kapasitas. Program berjalan selama empat tahun hingga 2030.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (15/10). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Kedua, Air Setara. Danantara Indonesia Trust bekerja sama dengan Plan Indonesia untuk menyediakan air bersih dan sanitasi yang tangguh iklim. Program ini menjangkau 156 desa di Timor Tengah Selatan, Manggarai, dan Belu, Nusa Tenggara Timur. Targetnya sekitar 230.000 penerima manfaat atau 60.000 rumah tangga, termasuk 86.700 siswa di 867 sekolah dan 79 fasilitas kesehatan. Program ini juga didukung Plan International. Selain itu, Vitamin Angels memberikan dukungan kesehatan dan nutrisi selama empat tahun.

Ketiga, Bakti Sehat Nusantara. Program ini dijalankan bersama Kementerian Kesehatan untuk memperkuat tenaga kesehatan. Cakupannya meliputi perencanaan berbasis kebutuhan, pendidikan dan pengembangan kompetensi, serta penempatan dan retensi tenaga kesehatan di wilayah prioritas. Pada tahap awal, dukungan biaya pendidikan diberikan kepada 1.343 tenaga medis dan tenaga kesehatan. Jumlah itu terdiri atas 358 penerima pada 2026 dan 985 penerima pada 2027. Penerima akan ditempatkan di 70 puskesmas, 131 rumah sakit daerah, dan 25 rumah sakit vertikal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan dukungan Danantara Indonesia Trust juga akan dipakai untuk mempercepat vaksinasi Hexavalen. Menurut Budi, kanker serviks adalah kanker pembunuh nomor dua bagi perempuan Indonesia, dengan jumlah kematian mendekati 30.000 per tahun. Karena anggaran terbatas, program vaksinasi ini sebelumnya diperkirakan butuh waktu hingga 15 tahun. Dengan dukungan Danantara Indonesia Trust, pemerintah berharap waktunya bisa dipangkas menjadi 10 tahun, bahkan lima tahun.

"Dengan adanya bantuan dari Danantara Trust ini, kita pengin percepat, siapa tahu bisa 10 tahun sampai 5 tahun. Bayangkan 30.000 per tahun kita bisa selamatkan," ujarnya.

Budi juga menyoroti beasiswa dokter spesialis. Menurutnya, yang paling dibutuhkan adalah dokter spesialis untuk penyakit dengan angka kematian tinggi di daerah, seperti stroke dan penyakit jantung.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (15/10). Foto: Widya Islamiati/kumparan

"Contohnya stroke (kasus) meninggal 350 ribu setahun, ya, jantung (kasus meninggal) 300 ribu per tahun. Alatnya sudah kita bagi, tapi dokternya enggak ada," kata Budi.

Penerima beasiswa akan menempuh pendidikan selama tiga hingga empat tahun dengan biaya pendidikan dan biaya hidup ditanggung penuh. Setelah lulus, mereka wajib kembali bertugas di daerah yang membutuhkan.

"Jadi selama 3 tahun, 4 tahun mereka dididik, mereka dibiayai penuh oleh Danantara dan kita bilang, kalau pulang harus kembali ke Papua Pegunungan atau Nias menyelamatkan nyawa di sana," ujarnya.

Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak, mengatakan fokus tahun kedua adalah memperkuat apa yang sudah dibangun pada tahun pertama.

"Kami ingin memastikan bahwa setiap kolaborasi tidak berhenti pada satu program, tetapi turut membuka ruang bagi dampak yang lebih luas dan berkelanjutan," kata Nuraini.

Ke depan, Danantara Indonesia Trust akan memperkuat perannya sebagai platform filantropi katalitik. Platform ini mempertemukan pemerintah, filantropi, mitra pembangunan, sektor swasta, masyarakat sipil, dan institusi pendidikan. Tujuannya agar sumber daya filantropi menghasilkan solusi yang bisa direplikasi, diperluas, dan memberi manfaat berkelanjutan.