Kumparan Logo

Danantara Sebut 52 Persen BUMN Rugi Rp 23 Triliun Setiap Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria usai pembukaan gelaran Danantara Housing Expo di NICE PIK, Tangerang, Banten, Kamis (27/8).  Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria usai pembukaan gelaran Danantara Housing Expo di NICE PIK, Tangerang, Banten, Kamis (27/8). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Danantara mencatat 52 persen dari 1.074 BUMN mengalami kerugian total mencapai Rp 23 triliun per tahun. COO Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan 97 persen dividen yang disetor kepada kas negara disetor hanya dari 8 perusahaan pelat merah, karena mayoritas perusahaan merugi.

“Lebih baik bagi saya untuk mengelola semua 8 perusahaan daripada saya mengelola 1.074 perusahaan. Mengapa? 52 persen dari 1.074 perusahaan tersebut mengalami kerugian. Kerugiannya mencapai Rp 23 triliun, USD 1,5 miliar setiap tahun,” ungkap Dony saat Danantara TIIF26, Senin (26/10).

Tidak hanya kerugian rill, Dony mengungkapkan mayoritas BUMN menyumbang kerugian dari inefisiensi bisnis hingga USD 2 miliar setiap tahunnya. Dengan pemangkasan dan restrukturisasi, dia yakin Danantara dapat mengamankan keuntungan hingga USD 3,5 miliar.

“Kerugian lain sebesar 2 miliar dolar AS akibat inefisiensi karena transaksi berlapis. Jadi pada dasarnya jika saya menutup perusahaan-perusahaan ini, kita langsung menghemat 3,5 miliar dolar AS setiap tahunnya,” ujar Dony.

Di sisi lain, dia menyoroti masih banyak permasalahan yang dialami BUMN, seperti akumulasi utang hingga kasus legal.

Ilustrasi Danantara. Foto: Tuti SW/Shutterstock

“Kita memiliki lebih dari 500 kasus di 1.074 perusahaan. Bisakah Anda bayangkan? Hanya di Telkom sendiri, kita memiliki 157 kasus. Karena itu, kita mulai berpikir bagaimana membuat bisnis ini lebih baik,” tegas Dony.

Dony juga mengatakan mayoritas perusahaan pelat merah memiliki bisnis yang serupa, bahkan saling tumpang tindih satu sama lain.

Dia mencontohkan, BUMN mengoperasikan 1.200 hotel, 60 rumah sakit, 16 perusahaan asuransi, hingga 5 perusahaan investasi. Sebagian besar dari mereka mengambil keuntungan dari entitas masing-masing.

PT Telkom Indonesia (Persero), misalnya, memiliki produk-produk jaringan yang berbeda setiap anak perusahaannya. Sama halnya dengan PT Pertamina (Persero) yang sebelumnya memiliki 3 anak usaha di sektor hilir (downstream) yakni PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping.

“Patra Niaga adalah pemilik barang dan produk dan bagian yang lebih tinggi, ini adalah perusahaan pelayaran kami, untuk membawa produk. Kemudian perusahaan pelayaran menyewa sektor swasta untuk membawa produk. Jadi perusahaan pelayaran mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri,” tutur Dony.