Ekspor Sarang Burung Walet ke China Tertahan, Barantin Negosiasi dengan Bea Cukai China

Badan Karantina Indonesia (Barantin) mengungkap sejumlah ekspor sarang burung walet (SBW) ke China saat ini tertahan. Barantin tengah bernegosiasi dengan otoritas China untuk menyelesaikannya.
Ekspor itu terhambat karena tidak memenuhi standar mutu yang ditetapkan General Administration of Customs China (GACC).
"Kita sedang melakukan diplomasi, perundingan, cocok-cocokan dengan GACC China agar perusahaan-perusahaan kita ini ada yang dibuka atau ada yang baru bisa masuk lagi. Dan memperketat di sini supaya tidak ada lagi yang di-banned,” kata Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, di kantor Barantin, Jakarta Pusat, Selasa (3/11).
Saat ini masih ada sekitar belasan perusahaan yang terkendala ekspor SBW. Sementara itu, 38 perusahaan sudah memenuhi persyaratan dan bisa mengekspor.
“Di luar 37, 38 (perusahaan) ya. Masih, masih (sama, belasan yang masih tertahan). Secara ofisial masih,” ujarnya.
Dorong UMKM Ekspor
Karding juga mengatakan sedang mendorong UMKM agar bisa mengekspor. Ia meminta semua pihak aktif “menjemput bola” terhadap potensi ekspor UMKM, salah satunya dengan mendorong perusahaan besar memiliki UMKM binaan yang bisa mengekspor.
Barantin juga akan membuka klinik ekspor, khususnya untuk pekerja migran yang berminat mengekspor.
“Saya mendorong perusahaan-perusahaan misalnya walet, perusahaan perikanan, agar punya binaan UMKM untuk ekspor. Misalnya ada anak mahasiswa lulus bisa magang situ atau dibina bagaimana jadi pengusaha,” kata Karding.
