Kumparan Logo

Fakta-fakta Kenapa Investor Kripto Lebih Melesat di RI Dibanding Saham

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung melihat grafik harga terbaru berbagai cryptocurrency. Foto: Soe Zeya Tun/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung melihat grafik harga terbaru berbagai cryptocurrency. Foto: Soe Zeya Tun/REUTERS

Investasi aset kripto makin banyak diminati investor. Hal ini tercermin dari jumlah transaksi dan investor yang kian meningkat.

Kepala Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Indrasari Wisnu Wardhana, mengungkapkan aset kripto telah mencapai Rp 83,8 triliun per Februari 2022. Berikut fakta-fakta selengkapnya.

Investor Kripto di RI tembus 12,4 Juta Orang

“Sampai Februari 2022 transaksi aset kripto telah mencapai Rp 83,8 triliun dengan jumlah pelanggan 12,4 juta orang atau bertambah 532.102 orang pelanggan dari 2021,” kata Wisnu saat rapat dengan Komisi VI DPR yang ditayangkan secara virtual, Kamis (24/3).

Jumlah pelanggan tersebut melampaui investor saham atau pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Wisnu memaparkan nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 859,4 triliun dengan jumlah pelanggan sebanyak 11,2 juta orang. Wisnu mengatakan jumlah pengguna atau investor di 2021 tersebut meningkat 1.222,8 persen dibanding 2020 yang transaksi asetnya baru sebesar Rp 64,9 triliun.

“Peningkatan transaksi kripto mencapai puncaknya pada April dan Mei 2021,” ungkap Wisnu.

Menurut Wisnu, saat ini sebanyak 229 aset kripto yang bisa diperdagangkan. Aset kripto ini akan terus dievaluasi dan mengikuti perkembangan aset kripto.

Kripto Lebih Sederhana Ketimbang Saham

Menurut pengamat sekaligus praktisi investasi Desmond Wira, ada sejumlah faktor yang membuat investor berbondong-bondong beralih ke kripto.

Tren ini terutama dipengaruhi oleh merebaknya pandemi COVID-19. "Kondisi pasar saham yang beberapa tahun lalu bergerak cenderung turun, kalau naik cuma terbatas. Saat bersamaan aset kripto sedang bergerak tajam, ini menyebabkan sebagian investor pasar modal mencoba peruntungan baru," ujar Desmond, Sabtu (26/3).

Infografik Tips Sebelum Investasi Kripto. Foto: kumparan

Alasan lainnya, kata Desmond, aset kripto juga dianggap lebih sederhana ketimbang investasi pasar modal. Ia menggambarkan misalnya bagaimana untuk mengikuti bursa saham, investor setidaknya mesti memahami kondisi ekonomi, fundamental perusahaan, hingga berbagai aturan pasar modal.

Sementara di aset kripto, jauh lebih sederhana dari sisi aturan maupun analisisnya. Ini juga dikuatkan dengan perkembangan aset kripto yang cukup pesat. Berbagai koin baru bermunculan, termasuk dengan kehadiran aset non fungible token (NFT).

Secara return atau keuntungan yang diterima para investor, lanjut Desmond, juga lebih menggiurkan. Alasan lainnya, gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh publik figur.

"Ini menjadi magnet bagi banyak orang untuk mencoba peruntungan di aset kripto. Secara tidak langsung, hype pelaku aset kripto di sosial media juga mendorong masyarakat awam untuk mencoba aset kripto," pungkas Desmond.