Kumparan Logo

Fitch Ratings Sebut Status Standalone Market Bisa Tekan Sentimen Investor RI

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings Foto: Reinhard Krause/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings Foto: Reinhard Krause/Reuters

Lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings menilai gejolak di pasar saham serta potensi Morgan Stanley Capital International (MSCI) mereklasifikasi pasar modal Indonesia mempertegas risiko terhadap kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal nasional.

Direktur Fitch Ratings Sovereigns, George Xu, menyampaikan risiko tersebut sebelumnya telah menjadi pertimbangan Fitch saat merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari Stabil menjadi Negatif pada Maret 2026, dengan peringkat utang tetap di level BBB.

"Kekhawatiran terbaru dan gelombang sell-off di pasar semakin mempertegas risiko yang diidentifikasi oleh Fitch terkait kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal di tengah meningkatnya sentralisasi wewenang pembuatan kebijakan," ungkap George dalam keterangan resminya, Rabu, (21/10).

Meski demikian, Fitch menilai pengumuman konsultasi MSCI belum berdampak langsung secara material terhadap peringkat kredit (sovereign) Indonesia.

Pemerintah dinilai masih memiliki instrumen kebijakan untuk menarik modal asing, didukung kecukupan cadangan devisa sebagai penyangga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Pihak berwenang masih memiliki instrumen kebijakan untuk menarik modal asing, sementara cadangan devisa yang lumayan besar, mencapai USD 146,3 miliar pada akhir kuartal III 2026 memberikan kapasitas untuk mendukung stabilitas rupiah," tambahnya.

Namun, Fitch memberi catatan khusus terhadap langkah intervensi valuta asing oleh Bank Indonesia (BI) yang menyerap cadangan devisa sekaligus likuiditas rupiah.

Kondisi ini memperketat pendanaan domestik dan berkontribusi pada peningkatan posisi net short mata uang asing BI.

George menyebut posisi net short BI melampaui USD 32 miliar pada akhir Agustus 2026, yang berpotensi meningkatkan kebutuhan likuiditas valas saat kewajiban jatuh tempo.

Fitch memperingatkan bahwa tekanan eksternal lanjutan berpotensi mengerek biaya pinjaman pemerintah serta mengikis penyangga eksternal Indonesia.

Reformasi Pasar Modal

Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Langkah reformasi pasar modal yang tengah digulirkan otoritas domestik pun dinilai belum serta-merta meredakan kehati-hatian investor.

"Potensi reklasifikasi dari emerging market menjadi standalone market dapat makin memberatkan sentimen investor yang sudah rapuh," tegas George.

Penurunan cadangan devisa yang tajam dan berkelanjutan akibat melemahnya kepercayaan investor atau memburuknya tata kelola dinilai dapat menambah tekanan pada peringkat kredit Indonesia.

Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi jangka menengah akibat tersendatnya arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

"Peringkat sovereign Indonesia mencerminkan rekam jejak dalam menjaga stabilitas makroekonomi, pertumbuhan jangka menengah yang tangguh, rasio utang terhadap PDB yang moderat, serta penyangga eksternal yang mencukupi," paparnya.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan konsultasi usulan perubahan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market dengan keputusan akhir diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

MSCI menyoroti kekhawatiran pelaku pasar terkait kelayakan investasi (investability), transparansi kepemilikan saham, serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.