Kumparan Logo

IHSG Diprediksi Merah Lagi, Tekanan Jual Masih Membayangi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi kembali melemah pada perdagangan Jumat (30/10). Sebelumnya pada Kamis (29/10), IHSG ditutup anjlok 184,26 poin atau 3,47 persen ke level 5.098,06.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG membentuk candlestick long black closing marubozu, yang menandakan dominasi tekanan jual. Meski demikian, potensi penurunan relatif terbatas.

“Dengan demikian, sentimen IHSG pada Jumat, 30 Oktober 2026, cenderung negatif dan volatil, dengan risiko tekanan lanjutan masih cukup besar, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka,” ujarnya.

Nafan memperkirakan support IHSG di kisaran 4.969-4.907 dan resistance di 5.246-5.326.

Federal Reserve. Foto: Shutterstock

Sentimen Global

Pelaku pasar masih mencermati prospek monetisasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), terutama setelah saham Alphabet, induk Google, yang anjlok sekitar 12,6 persen akibat laba kuartalan di bawah ekspektasi.

Investor mulai lebih selektif menilai perusahaan teknologi yang menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) besar untuk AI.

Tekanan saham teknologi juga terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter AS. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di 3,75-4,00 persen, tetapi data ekonomi yang relatif kuat dan inflasi di atas target 2 persen berpotensi membatasi ruang pelonggaran.

Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Sentimen Domestik

Di dalam negeri, ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI dan arus keluar dana asing masih menjadi perhatian utama. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut peringatan MSCI sebagai guncangan jangka pendek.

Menurutnya, pemulihan pasar tetap mungkin jika persoalan transparansi kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar dibenahi. Namun, selama hasil evaluasi MSCI belum pasti, investor berpotensi bertahan dengan strategi defensif.

Pelaku pasar juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Di sisi lain, ada faktor yang berpotensi menahan tekanan. Rupiah menguat 0,32 persen ke Rp 18.132 per dolar AS setelah The Fed menahan suku bunga dan harga minyak relatif stabil.

Sementara itu, MNC Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG masih berada dalam fase koreksi, dengan dua skenario yang perlu diperhatikan investor.

Dalam skenario terbaik, IHSG diperkirakan masih berpotensi koreksi menuju level 5.024 sebelum kembali menguat ke rentang 5.456-5.564. Sebaliknya, dalam skenario terburuk, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju rentang 4.763-4.845.