Intip Strategi Emak-emak Atur Keuangan Kebutuhan Belanja di Pasar

Harga bahan pangan yang terus berfluktuasi, bahkan terkadang melonjak di pasar, menjadi tantangan tersendiri bagi ibu rumah tangga. Mereka harus pintar mengatur uang belanja agar kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi di tengah mahalnya kebutuhan dapur.
Saat kumparan menyambangi Pasar Kebayoran Jakarta, suasana pasar tampak ramai oleh ibu-ibu yang hilir mudik mengunjungi berbagai lapak. Mereka sibuk memilih dan membeli aneka bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga, yang nantinya diolah menjadi hidangan sehari-hari.
Barmi, wanita berusia 50 tahun ini mengaku menghabiskan hingga Rp 700 ribu untuk membeli kebutuhan pangan keluarga selama sepekan. Menurutnya, hampir semua bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, mulai dari beras dan minyak goreng hingga cabai dan daging.
“Pokoknya gak ada yang murah nih. Uang seratus ribu sehari itu kalau dibelanjain semua kadang kurang, kalau emang lagi habis semua ya emang kurang,” kata Barmi kepada kumparan di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11).
Dari berbagai bahan pangan tersebut, Barmi merasa cabai menjadi salah satu komoditas yang paling ia rasakan kenaikan harganya.
“Kalau ibaratnya daging kan kalau ada duit ya, tapi kalau cabai itu ibaratnya sehari-hari tuh butuh,” ujar Barmi.
Meski begitu, ia memilih tidak mengurangi menu makanan keluarga karena tidak ingin kebutuhan anak-anaknya terganggu. Sebagai gantinya, Barmi mengatur prioritas belanja dengan mendahulukan barang yang persediaannya sudah habis dan menunda pembelian kebutuhan lain yang masih tersedia.
“Kadang kalau lagi kebutuhan rumah tangga masih ada yang ibaratnya minyak ada, ntar gula habis. Minyak gak beli, beli gula dulu gitu. Pokoknya diputerin kayak gitu,” tutur Barmi.
Barmi menyatakan cara tersebut dilakukan agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali dan uang yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Strategi berbeda dilakukan Nur Hasanah, pengunjung Pasar Kebayoran lainnya. Ia memperkirakan pengeluaran untuk membeli bahan makanan keluarga selama sepekan mencapai sekitar Rp 300 ribu.
Menurut Nur, ikan menjadi salah satu bahan pangan yang harganya cukup mahal. Untuk menyiasatinya, ia memilih mengurangi jumlah pembelian.
“Iya (dikurangi) jumlah, biasanya beli sekilo, ya jadi setengah kilo,” sebut Nur kepada kumparan.
Selain ikan, Nur juga menyoroti harga cabai dan bawang yang terkadang melonjak. Ketika harganya terlalu tinggi, ia memilih tidak membuat sambal untuk menghemat pengeluaran.
“Cabai bawang sih. Cabai bawang yang mahal ya, kadang-kadang suka melonjak harganya. (Jadinya) nggak nyambel deh,” tutur Nur.
