Kementerian ESDM Mulai Siapkan Tapak untuk PLTN

Kementerian ESDM mengungkap kelanjutan dari pembangunan PLTN di Indonesia. Langkah yang dilakukan untuk saat ini adalah penentuan tapak.
Wamen ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan penyiapan tapak tersebut dilakukan karena dalam RUPTL terdapat mandat bahwa Indonesia sudah harus memiliki PLTN dengan kapasitas 500 MW secara on grid pada 2032-2024.
“Jadi ini kan kita karena sudah ada target waktu, ini dari sekarang kan kita juga sudah harus menyiapkan, karena pembangunan PLTN itu kan membutuhkan waktu 7-10 tahun. Kalau ini tahun 2034, ya dari sekarang kita juga sudah harus menyiapkan tapak untuk PLTN itu sendiri,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Kamis (22/10).
Yuliot menjelaskan, saat ini pembahasan mengenai PLTN juga terus dilakukan antara Kementerian ESDM dengan PT PLN (Persero). Menurutnya, PLTN memang menjadi potensi penting karena Indonesia tak hanya akan bergantung dari energi baru terbarukan (EBT).
“Ini kan kebutuhan di beberapa daerah, ini kan sistem kelistrikan potensi yang cukup besar, ini tidak bisa hanya dari energi baru terbarukan. Ini kan kita juga harus mengembangkan kapasitas listrik yang cukup besar. Kapasitas listrik yang cukup besar itu, ini diantaranya di suplai dari PLTN,” ujarnya.
Ia juga memberi contoh beberapa negara yang kini sudah menggunakan PLTN dan listriknya mendominasi kebutuhan. Beberapa di antaranya adalah Prancis, Jepang sampai China.
“Jepang, ini kan juga yang tadinya mereka dengan adanya Fukushima menghentikan, tapi sekarang mereka kan balik lagi ke PLTN. Untuk China, mereka kan dengan jumlah PLTN yang paling banyak di dunia sekarang,” kata Yuliot.
Di samping itu, beberapa negara tetangga seperti Thailand, Malaysia bahkan Singapura juga sudah melirik PLTN. DI sisi lain, Vietnam Bahkan sudah memulai konstruksi PLTN di mana sekarang terdapat 2 PLTN yang sedang dibangun Vietnam.
