KORIKA Gandeng Singapura Bangun AI Berbasis Data dan Pengetahuan Lokal

Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA) menggandeng AI Singapore melalui Project NUSA untuk mengembangkan ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang mengedepankan tata kelola terbuka, serta pemanfaatan data dan pengetahuan lokal.
Ketua Umum KORIKA, Hammam Riza, menyampaikan bahwa Project NUSA merupakan wadah kolaborasi untuk membangun pendekatan bersama dalam tata kelola, pengembangan, dan penerapan AI di Indonesia dan Singapura.
"Ini adalah sebuah jaringan dan upaya kita untuk membangun komunikasi serta kolaborasi agar memiliki pandangan dan platform bersama yang terpadu," kata Hammam dalam konferensi pers ajang AI Impact Summit di Denpasar, Bali, Rabu, (21/10).
Hammam menjelaskan, NUSA merupakan singkatan dari Network of Unified and Secure AI. Melalui inisiatif ini, kedua pihak mendorong pengembangan AI yang aman, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Terdapat dua pilar utama dalam Project NUSA, yakni tata kelola AI terbuka (open AI governance) serta data dan pengetahuan terbuka (open data and knowledge).
Keterbukaan data dan pengetahuan dinilai krusial agar pengembangan AI dapat mengadopsi konteks lokal, termasuk kearifan lokal, konten lokal, dan bahasa daerah. Meski bersifat terbuka, Hammam menegaskan tata kelola AI harus berlandaskan etika dan tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan (human-in-the-loop).
"Kita ingin AI yang aman, inklusif, dan menjangkau semua lapisan masyarakat. Hal ini sangat penting di tengah perkembangan AI yang begitu pesat," tegas Hammam.
Hammam menambahkan, masyarakat selama ini cenderung terpukau oleh kemampuan AI generatif dalam memproduksi konten, namun mengabaikan aspek tata kelola dan orisinalitas data. Banyak data yang digunakan layanan AI generatif saat ini belum memiliki nilai otentik dari Indonesia.
Project NUSA pun diarahkan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan guna mengolah data menjadi pengetahuan dan kebijaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami ingin Indonesia menjadi bagian dari tatanan acuan dunia dalam hal tata kelola dan pemanfaatan AI," imbuhnya.
Singapura Punya Teknologi, Indonesia Punya Basis Penerapan
Deputy Director of AI Products AI Singapore, William Tjhi, menyampaikan bahwa keberhasilan adopsi AI tidak hanya bergantung pada pengembangan model, melainkan juga pada ekosistem pendukung seperti akses pengetahuan, orkestrasi agen AI, dan kerangka tata kelola.
Menurut William, teknologi AI yang berhasil di wilayah lain belum tentu memberikan hasil serupa jika diterapkan di Indonesia atau Asia Tenggara tanpa adanya penyesuaian kondisi lokal.
"Singapura memiliki teknologi canggih, sedangkan Indonesia memiliki basis penerapan yang besar, baik dari sisi pasar maupun kemampuan memvalidasi kasus penggunaan (use case)," ujar William.
William menilai keunggulan kedua negara saling melengkapi. Singapura fokus pada pengembangan teknologi, sementara Indonesia menyediakan ruang penerapan serta pengujian dalam skala besar.
Ia juga mengingatkan pentingnya standar tata kelola terbuka agar tidak terjadi fragmentasi regulasi yang membingungkan pelaku industri.
"Melalui dasar tata kelola terbuka di Project NUSA, para pengembang dan pelaku usaha tidak perlu memulai semuanya dari nol. Mereka dapat langsung membangun inovasi dan bisnis di atas fondasi tersebut," ujar William.
Reporter: Sandra Tandiono
