Kumparan Logo

Menperin Buka Opsi Kawasan Industri di Maluku, Tak Harus KEK

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji di sela-sela gelaran Pembukaan Pameran Krista Interfood di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Rabu (4/11/2026). Foto: Widya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji di sela-sela gelaran Pembukaan Pameran Krista Interfood di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Rabu (4/11/2026). Foto: Widya/kumparan

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji membuka peluang pengembangan kawasan industri baru di Maluku untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam daerah. Dia memastikan kawasan tersebut tidak harus berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), tetapi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan potensi industri setempat.

Sarmuji mengatakan pemerintah telah mendorong pengembangan kawasan tersebut agar sumber daya lokal Maluku dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“KEK baru di Maluku ya kita sudah dorong. Tidak harus KEK lah, pokoknya kita dorong itu memanfaatkan potensi lokal untuk kepentingan daerah,” kata Sarmuji saat ditemui di sela-sela gelaran Sagu Business Forum di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Kamis (5/11).

Ilustrasi kawasan industri Jawa Barat. Foto: Roy Ismail/Shutterstock

Bentuk kawasan yang akan dikembangkan masih akan dilihat lebih lanjut. Pemerintah ingin memastikan pengembangan kawasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi daerah.

“Kita dorong supaya itu menjadi perhatian bersama supaya Maluku makin sejahtera,” ujarnya.

Sebelumnya, Sarmuji mengungkapkan potensi pengembangan kawasan industri baru di Maluku yang diproyeksikan dapat menyerap sekitar 200.000 hingga 250.000 tenaga kerja.

Menurut dia, kawasan tersebut berpotensi dikembangkan di sebuah pulau yang saat ini hanya dihuni oleh ratusan orang. Jika pengembangannya berjalan lancar dan terintegrasi, wilayah tersebut dapat menjadi pusat kegiatan industri baru.

“Ada potensi di Maluku, di ujung Maluku ada potensi juga yang bisa menjadikan kawasan industri kebetulan berbatasan dekat sekali. Tapi, itu bukan dengan Ambon, tapi sangat dekat dengan NTT, bahkan dengan Timor Timur,” ujar Sarmuji dalam Rapimnas Kadin Indonesia di Jakarta Pusat, Jumat (30/10).

Dia menjelaskan, pengembangan kawasan industri tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus membuka lapangan kerja dalam jumlah besar.

“Saat ini ada satu pulau yang nanti kalau lancar prosesnya, hanya dihuni oleh sedikit saja, sedikit kakak, tapi kalau itu lancar dan terintegrasi, bisa dilakukan dengan sangat baik. Pulau yang hanya dihuni gara-gara ratusan kakak, mungkin akan berpotensi hadir sekitar 200.000 sampai 250.000 tenaga kerja,” terangnya.

Sementara itu, Gubernur Maluku menyebut pemerintah daerah tengah mendorong sejumlah proyek hilirisasi komoditas unggulan untuk memperkuat industri berbasis sumber daya alam.

Seorang buruh tani memperlihatkan cengkeh hasil panen di Tirtoyudo, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (3/11/2026). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

Menurut dia, pengembangan hilirisasi tersebut mencakup kelapa dalam, pala, dan cengkeh di Maluku Tengah, ubi kayu di Maluku Selatan, serta sagu di Seram Bagian Timur.

Gubernur berharap pengembangan industri pengolahan tersebut dapat mendorong tumbuhnya kawasan industri di Maluku. Dengan demikian, keberadaan kawasan industri nantinya dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya alam yang dimiliki daerah.

Dia menilai kawasan industri dapat berkembang seiring dengan hadirnya kegiatan industri dan investasi di wilayah tersebut.

instagram embed