Kumparan Logo

Pemerintah Catat Realisasi Investasi Capai Rp 1.539,2 T hingga September 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi investasi di Batam. Foto: rahmanaura/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi di Batam. Foto: rahmanaura/Shutterstock

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengungkapkan realisasi investasi Indonesia pada triwulan III 2026.

Rosan membeberkan, realisasi pada triwulan tersebut mencapai Rp 528,7 triliun. Secara kumulatif, realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat sebesar Rp 1.539,2 triliun atau setara 75,4 persen dari target.

“Capaian realisasi investasi triwulan III 2026 mencapai Rp 528,7 triliun. Sementara itu, total investasi dari Januari sampai September 2026 mencapai Rp 1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target. Total penyerapan tenaga kerja mencapai 2.194.496 orang,” jelas Rosan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (19/10)

Berdasarkan asal modal, penanaman modal asing (PMA) mendominasi dengan nilai Rp 777,8 triliun atau 50,5 persen dari total investasi. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 761,4 triliun atau 49,5 persen.

“Berdasarkan wilayah, kontribusi Jawa mencapai 49,4 persen atau Rp 759,8 triliun, sedangkan luar Jawa mencapai 50,6 persen atau Rp 779,4 triliun,” lanjut Rosan.

Berdasarkan lokasi, DKI Jakarta mencatat realisasi investasi PMDN terbesar, yakni Rp 160,1 triliun. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat sebesar Rp 89,9 triliun, Jawa Timur Rp 74,3 triliun, Banten Rp 61,1 triliun, dan Kalimantan Timur Rp 42,6 triliun.

Sementara itu, Jawa Barat menjadi lokasi dengan realisasi PMA tertinggi, mencapai Rp 139,2 triliun atau 17,9 persen. Sulawesi Tengah berada di posisi kedua dengan Rp 110 triliun atau 14,1 persen, yang berkaitan dengan kegiatan hilirisasi.

“Kemudian Sulawesi Tengah, ini karena hilirisasi, ya, (Rp) 110 triliun atau 14,1 persen, yang ketiga Maluku Utara Rp 91,9 triliun atau 11,8 persen, DKI Jakarta Rp 89,1 triliun atau 11,5 persen, Kalimantan Barat Rp 42,7 triliun atau 5,5 persen,” sebut Rosan.

Ia melanjutkan, jika PMDN dan PMA digabungkan, DKI Jakarta menjadi lokasi dengan realisasi investasi terbesar, yakni Rp 249,3 triliun atau 16,2 persen.

Jawa Barat menyusul dengan Rp229,1 triliun atau 14,9 persen, diikuti Sulawesi Tengah sebesar Rp 116 triliun atau 7,5 persen, Jawa Timur Rp 110,5 triliun atau 7,2 persen, serta Maluku Utara Rp 96 triliun atau 6,2 persen.

Kemudian berdasarkan sektor usaha, industri logam dasar serta barang logam yang bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar PMA, dengan nilai investasi Rp 216,6 triliun atau 31,7 persen.

Adapun sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat realisasi PMDN tertinggi sebesar Rp 117,8 triliun atau 15,5 persen.

“Kalau PMDN yang tertingginya transportasi, gudang, dan telekomunikasi 117,8 triliun atau 15,5 persen, dan kalau digabung Rp 269,2 triliun atau 17,5 persen,” imbuh Rosan.