Kumparan Logo

Pengusaha Sebut Bahan Baku Kapal Naik 20%, Permintaan Kapal Tambang Turun 60%

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal isap pertambangan timah di Sungai Liat, Bangka. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kapal isap pertambangan timah di Sungai Liat, Bangka. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, membeberkan harga bahan baku kapal naik hingga 20 persen pada 2026.

Anita mengatakan, kenaikan harga bahan baku turut mempengaruhi nilai keseluruhan produksi kapal. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi galangan kapal ketika mengikuti tender yang umumnya tidak mengakomodasi eskalasi harga.

“Bisa di 20 persen kenaikannya. Mulai 2026, iya,” kata Anita usai Pelantikan Pengurus Iperindo 2026-2030 di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta Selatan, Selasa (20/10).

Menurut dia, pemerintah perlu mempertimbangkan pemberian stimulus dan mengendalikan harga bahan baku untuk membantu industri perkapalan nasional menghadapi kenaikan biaya produksi.

“Karena dolar sudah tahu ya dolar sangat naik saat ini sangat tinggi sekali. Tentunya bahan baku yang tinggi ini sangat berpengaruh terhadap nilai secara keseluruhan dari eh produksi itu sendiri gitu. Jadi harapan kami pemerintah mungkin bisa melihat dan juga memberikan stimulus itu,” terangnya.

Di tengah kondisi tersebut, Iperindo mencatat kapasitas industri galangan kapal nasional mencapai sekitar 1.200 kapal baru per tahun. Sementara itu, kapasitas reparasi kapal mencapai sekitar 30.000 space.

Sedangkan dari sisi pengguna, berasal dari dalam negeri, pemerintah, perusahaan pelat merah hingga perusahaan swasta.

Anita menjelaskan, di sisi lain, permintaan kapal untuk kebutuhan industri pertambangan turun hingga 60 persen, sehingga kebutuhan kapal mulai bergeser ke angkutan bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau untuk tambang turunnya sampai 60 persen. Saat ini di tahun lalu sampai tahun ini turun sampai 60 persen tambang. Sekarang beralih tadi itu, beralih ke transportasi logistik BBM, bahan bakar,” ujarnya.

Perubahan permintaan tersebut turut memengaruhi jenis kapal yang dibangun galangan nasional. Anita mengatakan, jika sebelumnya produksi banyak didominasi kapal tongkang dan tugboat, kini kebutuhan kapal mulai bergeser mengikuti permintaan pasar.

“Eh macam-macam kalau tahun yang lalu adalah jenis tongkang dan tugboat. Tapi sekarang ini karena kebutuhan dari bahan bakar ya, lebih banyak didominasi seperti tanker, mini tanker, SPUB gitu. Sekarang lebih banyak ke sana. Jadi menyesuaikan dengan kondisi pasar,” imbuh Anita.

Anita mengatakan, industri perkapalan nasional pada dasarnya mampu membangun sejumlah jenis kapal, termasuk tongkang dan tugboat. Dengan demikian, Iperindo berharap pembangunan kapal yang dapat dikerjakan di dalam negeri diprioritaskan untuk galangan nasional.

Harapan tersebut, menurut dia, sejalan dengan rencana pemerintah menyusun Peraturan Presiden (Perpres) tentang pembangunan kapal dalam negeri. Iperindo berharap aturan itu berpihak pada peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan penguatan industri perkapalan nasional.

Selain itu, Iperindo mendorong pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan pelayaran yang memesan kapal dari galangan dalam negeri agar daya saing industri nasional meningkat.

“Yang diharapkan dari kami adalah bahwa adanya insentif yang bisa diberikan oleh pemerintah apabila industri pelayaran memesan kapal di dalam negeri supaya daya saing kita lebih kompetitif,” terang Anita.

Iperindo juga berharap pemerintah mengoptimalkan kebijakan fiskal untuk meningkatkan daya saing galangan kapal. Salah satu usulan yang disampaikan Anita adalah penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN).

Pertambangan timah di Sungai Liat, Bangka. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

RI Masih Impor Kapal Tanker dari Vietnam

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyoroti kemampuan Vietnam memproduksi kapal tanker berukuran besar, sementara Indonesia masih mengimpor kapal jenis tersebut dari negara itu.

Menurut dia industri perkapalan nasional perlu meningkatkan kapasitas produksi dan teknologi agar lebih mampu bersaing. Indonesia saat ini memiliki 342 perusahaan galangan kapal dan 127 perusahaan komponen kapal.

“Kalau dibandingkan dengan negara lain mungkin kita harus tampaknya kita memacu diri supaya kita bisa bersaing, yang sebenarnya secara potensi mungkin lebih besar kita. Vietnam bisa produksi kapal tanker besar. Jadi banyak kebutuhan, beberapa kebutuhan kapal itu, kapal tanker khususnya, justru kita diimpor dari Vietnam,” ujarnya.

Sarmuji menilai tantangan industri bukan hanya menambah jumlah galangan, tetapi juga meningkatkan mutu, produktivitas, dan ketepatan waktu produksi.

“Industri galangan menyerap sekitar 37.000 tenaga kerja dan industri komponen sekitar 6.000 tenaga kerja. Selain itu terdapat 16.620 tenaga kerja dengan sertifikat keahlian sebagai welder. Kemampuan nasional telah mencakup beragam jenis kapal, mulai dari bulk carrier, tanker, kapal penumpang, kapal ikan, kapal patroli, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Kemenperin juga menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan Rusia untuk mengembangkan kapal dengan teknologi lebih maju, termasuk melalui investasi bersama dengan pengusaha dalam negeri.

“Jadi kalau ini nanti bisa disambut oleh pengusaha dalam negeri mungkin bisa join investasi mengembangkan kapal dengan teknologi yang lebih advance,” tuturnya.