SKK Migas Apresiasi Pertamina-Medco Ikut Garap Aset Eni di Cekungan Kutai

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan bahwa keputusan PT Pertamina (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk ikut menggarap aset Eni di Cekungan Kutai merupakan langkah cerdas
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengapresiasi langkah tersebut karena aset-aset perusahaan raksasa migas asal Italia di Kalimantan Timur sudah terbukti cadangan migasnya sangat besar.
"Iya, itu cerdas namanya. Sudah ada project yang kelihatan ekonomis, langsung masuk. Kan, cerdas gitu, daripada eksplorasi belum tentu dapat, lama lagi ini tinggal ngambil duit aja," ungkapnya saat ditemui di Cilamaya Wetan, Karawang, dikutip Jumat (16/10).
Djoko menuturkan, kedua perusahaan migas nasional tersebut bisa langsung meraup keuntungan jumbo dengan mengempit 10 persen saham beberapa aset di Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
Penjualan ke Pertamina mencakup 10 persen kepemilikan di PSC East Sepinggan, North Ganal, dan Rapak. Aset-aset ini termasuk Lapangan gas Merakes dan East Merakes yang sudah berproduksi, serta penemuan gas Geng North–Gehem, yang saat ini sedang dikembangkan melalui proyek North Hub.
Sementara penjualan ke Medco yakni 10 persen kepemilikan di PSC West Ganal, East Ganal, Ganal, dan Muara Bakau. Aset-aset ini termasuk Lapangan Jangkrik yang sedang berproduksi, proyek gas Maha, Gendalo, dan Gandang yang sedang dikerjakan sebagai bagian dari proyek South Hub, dan penemuan gas raksasa Geliga yang baru saja diumumkan.
Kendati demikian, Djoko menegaskan Pertamina dan Medco tetap harus menggencarkan kegiatan eksplorasi di Cekungan Kutai untuk membantu Eni.
"Iya dong, jangan mau enaknya di mentang-mentang tuan rumah, ada yang bagus, ambil. Terus eksplorasinya gimana? Harus juga dong. Belajar cari minyak," tegas Djoko.
Menurutnya, kegiatan eksplorasi terlalu mahal dan berisiko besar, hal ini yang mendasari perusahaan nasional masih kurang agresif dalam eksplorasi potensi migas di Indonesia.
"Kalau kalau sendiri memang resikonya besar, makanya Pertamina kurang apa, ya? Kurang agresif eksplorasi karena risikonya besar. Nah, sekarang strateginya barangkali dia eksplorasi juga, lihat orang yang kira-kira potensinya bagus, besar, pemainnya bagus, dia masuk," jelas Djoko.
Dengan demikian, dia menilai perusahaan nasional masih perlu bekerja sama dengan perusahaan asing yang memiliki teknologi dan modal yang lebih matang untuk eksplorasi hulu migas, terutama yang berada di laut dalam.
"Jadi resikonya itu kecil untuk itu rugi atau untuk itu tidak berhasil, tapi dia masuk. Enggak apa-apa, sebagai BUMN, kan, kita kasih privilege. Kita pemerintah harus dukung BUMN," tandas Djoko.
Sebelumnya, Eni, menandatangani dua perjanjian mengikat untuk menjual kepemilikan saham di aset hulu migas di Indonesia yang dioperasikan oleh Searah, perusahaan patungan antara Eni dan Petronas.
"Transaksi ini menyusul dimulainya pengoperasian Searah baru-baru ini dan mencerminkan pertumbuhan nilai yang kuat yang telah dihasilkan Eni di seluruh Cekungan Kutei dalam beberapa tahun terakhir melalui kemampuan eksplorasi dan pengembangannya yang khas," jelas manajemen Eni dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (14/10).
Eni menjelaskan perusahaan berhasil mengeksplorasi proyek Geng North dan Geliga, dan mengidentifikasi lebih dari 10 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 650 juta barel kondensat.
Selain itu, perusahaan juga telah menuntaskan keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) yang diumumkan Maret 2026 lalu untuk proyek North Hub dan South Hub. Menurutnya, hal ini menarik perhatian perusahaan lain untuk ikut berpatisipasi pada proyek tersebut.
Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001, dengan portofilio meliputi eksplorasi, pengembangan, dan produksi hulu migas, serta baru-baru ini berfokus pada bisnis pertanian.
Eni secara langsung mengoperasikan PSC Peri-Mahakam, PSC Selat Makassar, dan blok Sapukala yang baru saja diberikan. Sejak Juni 2026, Eni memiliki 50 persen saham bersama Petronas di perusahaan Searah yang baru dibentuk.
Dengan portofolio 19 aset produksi dan pengembangan gas, mencakup 14 di Indonesia dan 5 di Malaysia, Searah memproduksi sekitar 350 ribu barel setara minyak (kboe) per hari, dan menargetkan produksi berkelanjutan melebihi 500 kboe per hari pada tahun 2028.
