Sri Mulyani: Unit Pajak Jangan Sombong dan Arogan, Harus Kolaborasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta tidak ada unit yang sombong dan arogan dalam menjalankan tugas di Direktorat Jenderal Pajak. Menurut dia, semua unit mulai dari Pajak, Bea Cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) harus bersinergi dan berkolaborasi.
Dia menegaskan, kesombongan dan arogansi unit hanya akan menutup kesempatan untuk bekerja bersama mengejar penerimaan negara. Padahal, tugas ini berat karena sangat menentukan sisi belanja, pembiayaan, hingga insentif untuk semua sektor.
"Maka tidak ada tempat bagi arogansi dan kesombongan instansi atau unit. Ini adalah tugas jaga tulang punggung Indonesia. Arogansi dan kesombongan unit hanya akan menutup kesempatan kita untuk bersinergi, berkolaborasi, bersama-sama berat sama dipikul, ringan sama dijinjing," katanya dalam Upacara dan Refleksi Hari Pajak 2021 secara daring, Rabu (14/7).
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan masing-masing unit harus memiliki militansi dalam mengejar penerimaan negara, tapi juga tidak boleh mengabaikan kolaborasi.
Kerja sama ini dibutuhkan agar memiliki pikiran dan sikap terbuka, terutama untuk menghindarkan Indonesia dari malapetaka seperti kepungan wabah corona.
"Dari berbagai evaluasi, kalau kita bekerja sama, hasilnya pasti lebih baik. Makanya saya minta di dalam peringatan Hari Pajak ke-76, menumbuhkan militansi di dalam kerja dan tidak menutup ruang kolaborasi," ujarnya.
Pegawai Adalah Aset Pajak Terbesar
Sri Mulyani juga mengingatkan pegawai pajak adalah aset terbesar Ditjen Pajak. Karena itu, para petingginya diminta untuk terus mengembangkan karier mereka dengan memberikan kesempatan menimba ilmu di luar negeri.
Dia meminta Dirjen Pajak melakukan investasi di bidang sumber daya manusia. Mendorong pegawainya melihat dunia lebih luas lagi agar bisa menggunakan pengalaman dan pengetahuannya untuk mentransformasikan perpajakan nasional saat kembali ke Indonesia.
"Kita akan terus membangun mulai rekrutmen, dari SMA masuk PKN STAN hingga perjalanan karier mereka. Dunia terus berubah, ekonomi sangat dinamis, masyarakat memiliki harapan tinggi. Risiko bergejolak seperti pandemi akan pengaruhi pajak dan negara kita. Jadi jangan pernah selesai belajar untuk kembangkan diri. Ini adalah pergulatan yang harus terus dijalani," katanya.
