Kumparan Logo

Suahasil Otak-atik APBN Imbas Belanja Naik, Sudah Habiskan Rp 60 T untuk Bencana Sumatera-Karhutla

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkeu Suahasil Nazara (kedua kiri) didampingi Wamenkeu Nurkholisoh Ibnu Aman (kiri), Juda Agung (kedua kanan), dan Luky Alfirman (kanan) menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menkeu Suahasil Nazara (kedua kiri) didampingi Wamenkeu Nurkholisoh Ibnu Aman (kiri), Juda Agung (kedua kanan), dan Luky Alfirman (kanan) menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan, pemerintah telah mengatur alokasi anggaran belanja hampir Rp 200 triliun dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Langkah ini diambil guna merespons lonjakan kebutuhan belanja mendesak yang diproyeksikan membengkak hingga Rp 300 triliun dari pagu awal.

"Dari total alokasi belanja awal Rp 3.843 triliun, hampir Rp 200 triliun sudah kita geser-geser. Keseluruhan kebutuhan belanja sendiri naik sekitar Rp 300 triliun. Ini yang harus kami setel dalam mengelola APBN," ujar Suahasil dalam Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat, (30/10).

Suahasil menjelaskan, lonjakan belanja tersebut dipicu oleh peristiwa tak terduga (unprecedented event), utamanya penanganan bencana alam yang belum teralokasikan dalam APBN awal. Bencana alam dari Sumatra bagian utara hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyerap anggaran hingga Rp 60 triliun.

Selain penanganan bencana, pemerintah juga menambah anggaran subsidi dan kompensasi energi, termasuk BBM, untuk menahan gejolak harga pasar dan menjaga daya beli masyarakat dalam jangka pendek.

Guna menyeimbangkan pelebaran belanja dari alokasi awal Rp 3.843 triliun menjadi Rp 3.942 triliun, Kementerian Keuangan menaikkan outlook target pendapatan negara sebesar Rp 50 triliun dari proyeksi awal Rp 3.154 triliun.

"Pilihan strateginya adalah menaikkan pendapatan negara dikombinasikan dengan menggeser anggaran belanja yang ada. Target pendapatan yang awalnya Rp 3.154 triliun kita naikkan kira-kira Rp 50 triliun untuk menyesuaikan kebutuhan belanja," pungkas Suahasil.