Target Produktivitas Sawit Naik Jadi 4 Ton per Hektare, GAPKI Soroti Peremajaan Sawit Rakyat

Pemerintah mendorong produktivitas kebun sawit naik hingga 4 ton per hektare. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai target itu hanya bisa dicapai lewat percepatan peremajaan sawit rakyat (PSR).
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan peremajaan harus diprioritaskan untuk sawit rakyat karena porsinya besar, yakni 41 persen dari seluruh kebun sawit Indonesia.
“Yang utama harus dikejar untuk bisa mencapai target tersebut peremajaan sawit rakyat (PSR) atau berjalan dengan baik, karena 41% sawit Indonesia adalah milik rakyat,” kata Eddy kepada kumparan, Minggu (8/11).
Menurut Eddy, perusahaan besar juga berperan. Di GAPKI sendiri sudah ada skema kemitraan dengan petani sawit rakyat.
PSR Masih Banyak Kendala
Eddy menjelaskan program PSR masih menghadapi banyak tantangan, sehingga pencapaian target bergantung pada kemampuan mengatasinya.
“Tergantung kecepatan PSR-nya, saat ini PSR masih banyak kendala, baik dari segi legalitas maupun petani kadang enggan menebang pohon sawitnya karena harga TBS masih cukup bagus, mereka kuatir kehilangan pendapatan selama menunggu panen. Bibit-bibit sekarang ini 2,5 sampai 3 tahun sudah menghasilkan, jadi waktunya cukup pendek,” ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Fasiol Nurofiq mengatakan pemerintah perlu menaikkan produktivitas sawit yang kini sekitar 2 ton per hektare. Luas kebun sawit nasional sekitar 17 juta hektare.
Menurut Hanif, berbeda dengan rencana mandatori bioetanol untuk campuran bensin, program biodiesel sudah sangat matang dan tidak memerlukan tambahan lahan sawit.
“Kalau B50 sepertinya sudah jalan saja, karena saya pikir produktivitas kita perlu ditingkatkan. Kita punya 17 juta hektare kebun sawit yang produktivitasnya masih 2 ton per hektare yang tentu bisa sampai ke 4 ton ya,” ungkap Hanif saat ditemui di kantornya, Jumat (6/11).
Hanif menilai pemerintah perlu mempercepat intensifikasi lahan sawit, bukan ekstensifikasi atau pembukaan lahan baru. Ia menyebut lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini marak terjadi bisa dimanfaatkan.
