Usai Terjadi Lonjakan, Harga Beras Jepang Turun di Bawah Rp 342.000 per 5 Kg

Harga rata-rata beras di tingkat ritel supermarket Jepang turun di bawah 3.000 yen per 5 kilogram (kg) selama empat pekan berturut-turut. Apabila dikonversi ke rupiah harga beras 5 kg di Jepang sekitar Rp 342.000 (kurs Rp 114 per Yen).
Penurunan harga ini terjadi di tengah melonjaknya persediaan beras serta pergeseran dinamika pasokan dan permintaan.
Dikutip dari The Japan News pada Sabtu, (17/10), kondisi tersebut menjadi ujian awal bagi Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang yang baru menjabat, Arata Takebe, untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
"Kami akan berupaya maksimal untuk memastikan volume produksi berjalan sesuai tingkat permintaan pasar," kata Takebe.
Kondisi saat ini berbalik tajam dari lonjakan harga beras yang sempat terjadi beberapa tahun lalu pada era Reiwa. Dalam beberapa kasus di tingkat pengecer, beras hasil panen terbaru bahkan dijual lebih murah dibandingkan beras hasil panen 2025.
Berdasarkan data kementerian, persediaan beras di sektor swasta menembus rekor 2,43 juta ton pada akhir Juni. Jumlah tersebut melampaui batas persediaan ideal nasional yang berada di kisaran 1,8 juta hingga 2 juta ton.
Pada September, Kementerian Pertanian Jepang memutuskan untuk membeli kembali sebagian dari 590.000 ton beras yang sempat dilepas dari cadangan pangan pokok pada tahun sebelumnya. Namun, langkah intervensi tersebut belum mampu menahan tren penurunan harga.
Desakan agar pemerintah menambah volume pembelian kembali beras terus disuarakan oleh organisasi petani serta anggota parlemen Partai Demokrat Liberal (LDP). Pemerintah kini berada di bawah tekanan untuk menentukan waktu dan besaran kuota pembelian beras tambahan.
Takebe menyampaikan bahwa Perdana Menteri Jepang telah memberikan arahan mencakup delapan isu strategis, termasuk jaminan ketahanan pangan dan stabilitas pasokan beras.
Selain masalah beras, Takebe diperkirakan bakal menghadapi negosiasi alot terkait rencana pembukaan keran impor kentang segar dari Amerika Serikat. Para petani di Hokkaido, wilayah penghasil kentang terbesar di Jepang, menentang keras rencana pencabutan larangan impor tersebut karena mengkhawatirkan risiko penularan hama dan penyakit tanaman.
"Kami akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat berbasis bukti ilmiah dan tetap mengambil sikap tegas," tegasnya.
