Kumparan Logo

Wall Street Melesat Ditopang Laporan Laba Perusahaan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street.  Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Getty Images

Wall Street berakhir dengan kenaikan tajam pada perdagangan Selasa (19/7), karena lebih banyak perusahaan melaporkan pendapatan dan laba perusahaan melampaui perkiraan. Ini memberi sedikit kelonggaran pada investor yang kadung was-was mengenai lebih tingginya inflasi karena pengetatan kebijakan The Fed.

Pada penutupan perdagangan Selasa, Dow Jones Industrial Average naik 754,44 poin atau 2,34 persen menjadi 31.827,05. Sementara S&P 500 naik 105,84 poin atau 2,76 persen ke level 3.936,7. Adapun Nasdaq Composite bertambah 353,10 poin atau 3,11 persen menjadi 11.713,15.

S&P 500 tercatat naik 2,8 persen yang merupakan penutupan tertinggi sejak 9 Juni. Nasdaq Composite naik 3,1 persen, ini juga merupakan persentase kenaikan satu hari terbesar sejak 24 Juni 2022.

Volume di bursa AS adalah 10,95 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,76 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

"Laba perusahaan tercatat lebih baik dari ekspektasi," kata Paul Kim, CEO Simplify Asset Management di New York dikutip dari Reuters, Rabu (20/7).

Saham Halliburton tercatat naik 2,1 persen setelah penyedia layanan ladang minyak membukukan laba kuartalan sebesar 41 persen. Lalu, Toymaker Hasbro Inc naik 0,7 persen setelah laporan laba kuartalannya jauh di atas ekspektasi.

Pekerja melihat pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP

Begitu pula dengan Truist Financial Corp yang mencatatkan kenaikan saham sebesar 2,6 persen usai laporan laba. Dolar AS menandai penurunan hari ketiga berturut-turut karena pasar mengurangi kemungkinan suku bunga Federal Reserve yang lebih tinggi.

Lonjakan inflasi sebelumnya membuat investor memprediksi kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin dalam pertemuan The Fed akhir bulan ini. Sejumlah pejabat Fed akhirnya memberi sinyal 75 basis poin sebagai gambaran kenaikan suku bunga tersebut.

Meski begitu, Kim tetap meminta investor tetap waspada. Sebab kondisi makro di AS masih mengkhawatirkan, melihat inflasi yang tinggi.

"Kami masih mengalami penurunan pendapatan, tekanan inflasi yang tinggi dan pengetatan Fed. Jadi dalam jangka panjang, saya tidak berpikir reli yang menanjak ini tidak bertahan lama," katanya.