Kumparan Logo

Formasi 2-7-2 dan Masa Depan Kiper di Benak Thiago Motta

kumparanBOLAverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Roberto Firmino dan Alisson Becker saat berduel di Liga Champions. (Foto: Alberto PIZZOLI / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Roberto Firmino dan Alisson Becker saat berduel di Liga Champions. (Foto: Alberto PIZZOLI / AFP)

Sepak bola modern mengenal peran ball-playing goalkeeper atau sweeper-keeper. Dengan peran ini, seorang kiper tak hanya dituntut untuk piawai dalam tugas dasar seperti meminimalisir kemungkinan kebobolan, melainkan juga fasih dalam mengontrol bola untuk menginisasi serangan tim.

Namun, Thiago Motta merasa perkembangan peran seorang kiper tak henti sampai situ. Dalam sesi wawancara bersama la Gazetta dello Sport, pelatih Tim U-19 Paris Saint-Germain itu memiliki sebuah ide untuk memiliki tim yang bermain dengan formasi 2-7-2. Dalam formasi ini, kiper mendapatkan peran jauh lebih ofensif dari ball-playing goalkeeper.

“Dalam formasi itu, seorang kiper menjadi salah satu dari tujuh gelandang. Harusnya bukan masalah karena bagi saya, kiper harusnya menjadi pemain bertahan pertama dan kiper menjadi penyerang pertama dalam satu tim,” kata eks pemain Inter Milan itu.

Motta merasa formasi ini akan sangat cocok dengan sepak bola yang dia idam-idamkan. Ketika diserang, timnya akan menerapkan high-pressing. Ketika menyerang, timnya bisa melancarkan oper-operan cepat berujung upaya yang membahayakan tim lawan.

Thiago Motta, pelatih U-19 PSG. (Foto: FRANCK FIFE / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Thiago Motta, pelatih U-19 PSG. (Foto: FRANCK FIFE / AFP)

Dengan majunya kiper di posisi gelandang, Motta merasa beban satu tim harusnya lebih ringan ketika melakukan dua tugas berat ini selama 90 menit.

“Saya ingin ketika pemain mendapatkan bola, mereka bisa mendapatkan tiga atau empat solusi melalui dua rekannya yang berusaha menolong,” ucap sosok berkebangsaan Italia berusia 37 tahun itu.

“Karena bagian sulit dari sepak bola itu lebih sering menyoal melakukan hal-hal yang sebenarnya sederhana, seperti menemukan cara untuk lepas dari kawalan lawan, mengontrol pertandingan, melepaskan umpan,” lanjut Motta.

Dalam kesempatan serupa, Motta berbicara perihal tren formasi sepak bola saat ini. Dia sadar bahwa bisa muncul tafsir berbeda untuk satu formasi dari satu pelatih ke pelatih lainnya.Seperti formasi 4-3-3. Di era Pep Guardiola, Manchester City memainkan sepak bola menyerang dengan formasi itu. Tapi, di tangan Jose Mourinho musim ini, Manchester United bermain reaktif dengan formasi itu.

“Saya tidak suka terlalu mengkotak-kotakkan formasi karena itu bisa menjebak. Sebuah tim bisa bermain ofensif dalam formasi 5-2-3 dan bermain defensif dalam formasi 4-3-3. Semua itu tergantung pada kualitas para pemain yang ada di lapangan,” ujar Motta.