Thiago Motta Gantung Sepatu, Thiago Motta Menutup Epos

Harus diakui, perpisahan Thiago Motta dengan Parc des Princes tidak berjalan baik. Tapi, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak menghormati pamitnya Motta dari dunia sepak bola.
Setelah menjalani karier sepak bola profesional selama 19 tahun, Motta, yang sekarang berusia 35 tahun, memutuskan untuk mengakhiri kariernya sebagai pesepak bola. Lepas musim 2017/2018, di klub bernama Paris Saint-Germain, Motta memutuskan untuk gantung sepatu.
"Saya ingin berterima kasih kepada dukungan suporter. Saya menjalani masa-masa indah ketika bermain di sini. Saya ingin berterima kasih kepada rekan setim, staf pelatih, manajemen, dan presiden klub, yang memberikan saya kesempatan untuk datang ke sini (PSG). Di sini, saya mengalami banyak hal luar biasa," ujar Motta dilansir situs resmi klub.
Sialnya, pertandingan terakhir Motta--juga pelatih Unai Emery--di Parc des Princes tidak berjalan baik. Menjamu Rennes dalam laga pekan 37 Ligue 1 musim 2017/2018, Minggu (13/5/2018) dini hari WIB, PSG justru menderita kekalahan dengan skor akhir 0-2. Hasil ini membuat PSG mendapatkan kekalahan pertama mereka di Parc des Prines di musim 2017/2018.
Walau memang tidak berakhir indah, bukan berarti pensiunnya Motta ini tidak perlu dikhidmati. Setidaknya, orang-orang perlu ingat bahwa meski gagal menang di laga terakhirnya di Parc des Princes bersama PSG, Motta mencatatkan perjuangan yang cukup keras sebelum akhirnya menjadi sukses.
***
Motta mengenal sepak bola Eropa sejak masih berusia 17 tahun. Direkrut dari Clube Atletico Juventus pada 1999 silam, Barcelona menjadi klub pertama Motta di Eropa. Di Barcelona inilah, dia mengalami beberapa pengalaman unik.
Di Camp Nou, Motta tidak langsung menjadi pemain inti. Di awal kariernya, dia sempat membela tim Barcelona B (tim "reverse"-nya Barcelona). Di sini pulalah, dia bertemu dengan Lionel Messi muda. Dengan sifatnya yang memang agresif dan keras melakukan tekel, dia acap kena marah, termasuk dari ayahnya Lionel Mssi.
"Hari pertama latihan, saya melanggarnya (Messi) terlalu keras. Ayahnya sampai datang menghampiri saya, dan bilang bahwa permainan saya ini kelewat keras. Tapi, jujur saja. Itu adalah satu-satunya cara menghentikan Messi," ujar Motta dilansir Gazzetta dello Sport.
Meski dianggap agresif dan kadang bermain kasar, justru cara bermain inilah yang menjadi ciri khas Motta. Dia dikenal sebagai gelandang dengan kemampuan tekel apik serta kemampuan membaca serangan yang baik. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan umpan serta kemampuan dalam mengatur tempo yang baik.
Tapi, nilai-nilai plus ini tak serta-merta membuatnya menjadi pemain inti setelah naik ke tim utama Barcelona pada 2001. Selama tujuh musim, total Motta hanya menghabiskan 96 penampilan. Dia sulit bersaing dengan pemain-pemain macam Xavi maupun Andres Iniesta ketika itu. Hal yang sama terjadi ketika dia membela Atletico Madrid dan Genoa.

Awal dari kegemilangan Motta dimulai ketika dia pindah ke Inter Milan. Menghuni lini tengah Nerrazzuri secara rutin, Motta menjadi salah satu pemain dari skuat Inter yang meraih treble pada musim 2009/2010 silam. Dia menjadi penghuni tetap lini tengah Inter pada musim tersebut, dengan catatan 26 penampilan dan sukses mencetak 26 gol.
Karier Motta semakin cemerlang ketika memutuskan pindah ke Paris Saint-Germain pada musim 2011/2012. Di sinilah dia mengalami banyak hal manis, dan di sini pula dia banyak meraih gelar secara klub. Gelar Ligue 1, Coupe de la Ligue, dan Coupe de France menjadi gelar-gelar yang sukses dia raih selama berkostum PSG. Hanya satu hal yang hilang saat dia berkostum PSG: trofi Liga Champions.
Terkhusus ketika membela PSG, dengan segala kariernya yang cemerlang ini, tak heran dalam laga melawan Rennes, Minggu (13/5/2018) dini hari WIB, klub memberikannya acara penghormatan yang cukup meriah. Nasser Al-Khelaifi, presiden PSG, bahkan sampai hadir dalam acara tersebut, menunjukkan betapa penting peran Motta di PSG.
Jadi, terlepas hasil buruk yang diterima PSG di Parc des Princes serta Motta sendiri yang akhirnya ditarik keluar pada menit 77, Motta tetap perlu mendapat apresiasi. Dia, selain menjadi bagian dari proyek ambisius Khelaifi bersama PSG, juga sudah menjadi bagian tak tergantikan dari lini tengah PSG.
***
Motta, sama seperti pemain lain pada umumnya, juga adalah pemain yang tidak sempurna. Cedera yang kerap menghantui membuat Motta acap sulit mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Itulah mengapa, dengan semakin menuanya usia (sekarang Motta berusia 35 tahun), maka akan semakin sulit baginya untuk bersaing dengan pemain yang lebih muda.
Maka, pensiun di akhir musim nanti menjadi pilihan tepat bagi Motta. Walau perpisahannya ini tidak berakhir indah, namanya akan tetap diingat sebagai salah satu gelandang ciamik yang pernah dimiliki PSG.
Lantas, umpan-umpan serta tekel-tekel apik Motta akan tetap di sana, terasa di atas lapangan bagi siapa pun yang pernah berduel dengannya.
