Kumparan Logo

Cabang Baru NIKA Hadir Bukan Sekadar Coffee Shop tapi Ruang Kolaborasi

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
NIKA, coffee shop baru di Jakarta Selatan dengan konsep kolaborasi. Foto: Azalia Amadea/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
NIKA, coffee shop baru di Jakarta Selatan dengan konsep kolaborasi. Foto: Azalia Amadea/kumparan

Jika dahulu coffee shop hanya diidentikkan sebagai lokasi untuk membeli minuman atau sekadar tempat singgah sesaat, kini keberadaan kedai kopi telah berkembang menjadi lifestyle space yang memadukan elemen kuliner, desain interior, hingga kegiatan lintas komunitas.

Perubahan pola konsumsi dan kebutuhan interaksi masyarakat urban mendorong para pelaku industri kopi untuk menawarkan nilai tambah. Kehadiran kedai kopi saat ini tidak hanya berfokus pada cita rasa di dalam cangkir, melainkan juga pada bagaimana karakter ruang dan ekosistem pendukung di dalamnya agar dapat memfasilitasi berbagai aktivitas harian masyarakat, mulai dari bekerja remote, berdiskusi, hingga mencari inspirasi.

​Pendiri NIKA, Dolly Hardjono, mengungkapkan bahwa dinamika masyarakat perkotaan saat ini membutuhkan fleksibilitas ruang yang dapat menyesuaikan dengan berbagai ritme kehidupan.

​Pendiri NIKA, Dolly Hardjono. Foto: Azalia Amadea/kumparan

​"Setiap orang punya gaya dan hal-hal kecil yang membuat mereka bahagia. Ada yang datang untuk menikmati produk, bertemu teman, mengeksplorasi minat, atau sekadar mengambil jeda. Kami ingin memberi ruang bagi setiap orang untuk menikmati NIKA dengan caranya sendiri," ujar Dolly saat acara pembukaan cabang terbaru di Senopati, Jakarta Selatan (19/10).

​Salah satu bentuk strategi penyesuaian ruang ini terlihat dari penerapan konsep kedai kopi yang terintegrasi dengan fungsi lain, seperti book café. Di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, misalnya, integrasi antara penyediaan minuman dengan akses literasi buku impor melalui kerja sama bersama Prose & Petals dan Gramedia memberikan alternatif baru bagi pengunjung yang menginginkan suasana santai sembari membaca.

Tak hanya itu, setiap lokasi kedai NIKA memang dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik lingkungan sekitar, seperti yang diterapkan di kawasan Senopati, Plaza Indonesia, dan Pondok Indah.

NIKA, coffee shop baru di Jakarta Selatan dengan konsep kolaborasi. Foto: Azalia Amadea/kumparan

Selain penataan ruang, kolaborasi lintas industri juga menjadi tren penting dalam memperluas jangkauan audiens kedai kopi modern. Penggabungan ide antara industri kopi dengan jenama produk gaya hidup, mode, hingga kecantikan —seperti MiiR, Masshiro & Co., hingga kolaborasi kegiatan bersama brand seperti Wardah, Bobbi Brown, dan Nike— menunjukkan bagaimana ruang ritel kopi dapat berfungsi sebagai titik temu (hub) kolaborasi bagi berbagai segmen konsumen tanpa terbatas pada pencinta kopi semata.

​Dari sisi formulasi produk, penyesuaian juga dilakukan pada karakteristik bahan baku. Pemilihan biji kopi dengan tingkat keasaman yang relatif aman bagi pencernaan menjadi strategi untuk menjadikan konsumsi kopi lebih inklusif bagi berbagai kalangan.

Pistachio latte NIKA, coffee shop baru di Jakarta Selatan dengan konsep kolaborasi. Foto: Azalia Amadea/kumparan

Co-founder NIKA, Lionel Hanjaya Tirta, menambahkan bahwa pengembangan ragam menu di tiap gerai disesuaikan dengan respons konsumen setempat guna memastikan keunikan pengalaman di setiap lokasi.

Lionel mengungkapkan timnya menggunakan biji kopi arabika yang dipilih secara teliti sehingga bukan hanya sekadar nikmat, tapi mudah diaplikasikan ke dalam berbagai menu.

Beberapa menu minuman yang menjadi jagoan kedai ini juga telah sempat kumparanFOOD cicipi. Kami mencoba reverse dirty (Rp 72 ribu). Segelas coldbrew dengan after taste fruity dan chocolatey yang imbang, tidak terlalu pahit, berpadu nikmat dengan matcha foam yang manisnya lembut. Matchanya sendiri juga tidak terlalu kuat atau umami, sehingga balance dengan rasa kopinya.

Sementara, bagi kamu yang tidak terlalu suka dengan kopi hitam, bisa mencicipi pistachio latte (Rp 72 ribu). Pilihan late dengan dengan susu oat yang beraroma khas, cocok dengan pistachio foam yang nutty dan tambahan pistachio crumbs yang menambah tekstur crunchy.

Poke bowl NIKA, coffee shop baru di Jakarta Selatan dengan konsep kolaborasi. Foto: Azalia Amadea/kumparan

Tak hanya minuman kopi, di cafe ini kamu juga bisa mencicipi ragam kreasi matcha, mulai dari matcha kiss dengan strawberry foam, matcha sea salt, dirty matcha sea salt, zesty matcha, hingga coconut matcha.

Tak lupa, di kedai ini kamu juga bisa memesan makanan mulai dari camilan hingga menu berat. Kamu bisa mencoba seperti menu sambal matah chicken karaage hingga poke bowl dengan salmon dan tuna segar.

Sambal matah karaage NIKA, coffee shop baru di Jakarta Selatan dengan konsep kolaborasi. Foto: Azalia Amadea/kumparan

​Di tengah ketatnya persaingan industri minuman lokal, ekspansi jangka panjang dan penguatan identitas brand lokal untuk dapat menembus pasar internasional juga mulai menjadi agenda pelaku usaha. Dolly menegaskan aspirasinya untuk membawa produk Indonesia ke kancah global.

​"Kami berharap ke depannya NIKA bisa hadir di lebih banyak negara, membawa NIKA sebagai brand dan produk Indonesia. Kami ingin brand Indonesia juga punya kesempatan untuk dikenal dan dinikmati di luar negeri, seperti halnya brand-brand internasional yang datang dan berkembang di Indonesia," tutup Dolly