Kumparan Logo

Andrea Bocelli Konser di Borobudur, Bawa Misi Kemanusiaan dan Pesan Perdamaian

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Musisi asal Italia, Andrea Bocelli. Foto: dok. Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Musisi asal Italia, Andrea Bocelli. Foto: dok. Istimewa.

Musik punya banyak cara untuk menyentuh hati. Melalui konser Andrea Bocelli di Indonesia, kekuatan itu juga diharapkan dapat menggerakkan kepedulian bagi anak-anak yang terdampak konflik.

Maestro tenor asal Italia tersebut akan tampil di kawasan Candi Borobudur, Magelang, dalam konser Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia. Selain merayakan tiga dekade album legendaris Romanza, konser ini membawa pesan kemanusiaan, solidaritas, dan harapan akan perdamaian dunia.

Melalui rangkaian konser tersebut, promotor Shoemaker Live menghadirkan inisiatif penggalangan dana dengan target penyaluran 100.000 pasang sepatu untuk anak-anak di Palestina dan negara-negara lain yang terdampak konflik.

Inisiatif ini ditujukan untuk membantu anak-anak yang menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar akibat situasi kemanusiaan.

Misi sosial itu memberi makna tersendiri bagi kehadiran Bocelli di Indonesia. Musik menjadi ruang untuk menikmati pertunjukan sekaligus membangun empati, mempertemukan masyarakat, dan mengajak lebih banyak orang peduli terhadap sesama.

Perjalanan Andrea Bocelli, dari Tuscany ke Panggung Dunia

Musisi asal Italia, Andrea Bocelli. Foto: dok. Istimewa.

Sebelum suaranya dikenal di berbagai penjuru dunia, perjalanan Bocelli bermula di Lajatico, Tuscany, Italia. Lahir pada 22 September 1958, ia telah menunjukkan kecintaan terhadap musik sejak kecil.

Bocelli mengalami gangguan penglihatan akibat glaukoma sejak lahir. Pada usia 12 tahun, ia kehilangan seluruh penglihatannya setelah mengalami kecelakaan saat bermain sepak bola. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkahnya untuk terus menekuni musik.

Sebelum menjadikan musik sebagai jalan hidup, penyanyi berusia 68 tahun tersebut sempat menempuh pendidikan hukum di Universitas Pisa. Di tengah kesibukan kuliah, ia terus mengasah kemampuan vokal dengan mempelajari musik dan teknik bernyanyi, termasuk di bawah bimbingan tenor legendaris Italia, Franco Corelli.

Perjalanan profesionalnya mulai menarik perhatian luas pada 1992. Saat itu, Bocelli terlibat dalam rekaman lagu "Miserere", karya musisi Italia Zucchero yang juga melibatkan Luciano Pavarotti.

Dua tahun kemudian, ia memenangkan kategori pendatang baru dalam Festival Sanremo 1994 lewat lagu "Il mare calmo della sera". Kemenangan tersebut menjadi salah satu titik penting yang membuka jalan bagi kariernya.

Nama Bocelli semakin dikenal secara internasional melalui "Con te partirò", yang dirilis pada 1995. Lagu ini kemudian dibawakan dalam versi duet bersama Sarah Brightman dengan judul "Time to Say Goodbye" dan menjadi salah satu karya paling ikonik dalam perjalanan musiknya.

Popularitasnya terus meluas lewat kolaborasi bersama Céline Dion dalam lagu "The Prayer". Lagu tersebut dibawakan pada ajang Academy Awards 1999 dan memperoleh nominasi Oscar untuk kategori Best Original Song.

Selama lebih dari tiga dekade, Bocelli dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam genre classical crossover. Ia memadukan kekuatan musik klasik dan opera dengan pendekatan musik populer, sehingga karya-karyanya dapat dinikmati berbagai kalangan. Karakter vokalnya yang khas pun menjangkau pendengar lintas genre dan generasi.

Pencapaian itu berlanjut melalui album Sì, yang dirilis pada 2018 dan berhasil menempati posisi pertama tangga album resmi Inggris. Dalam album tersebut, Bocelli berkolaborasi dengan sejumlah musisi internasional, termasuk Ed Sheeran dan Dua Lipa, serta putranya, Matteo Bocelli.

Sepanjang kariernya, Bocelli telah menjual lebih dari 90 juta kopi album di seluruh dunia. Ia juga menerima penghargaan bintang di Hollywood Walk of Fame pada 2010, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penyanyi tenor paling dikenal di dunia.

Musik sebagai Jembatan Kemanusiaan

Kiprah Bocelli juga tumbuh di luar panggung pertunjukan. Melalui Andrea Bocelli Foundation (ABF), yayasan yang didirikannya pada 2011, ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.

Yayasan ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, musik, dan beragam program sosial bagi komunitas rentan, khususnya anak-anak dan generasi muda.

Salah satu inisiatifnya adalah Voices of Peace, yang mempertemukan anak-anak dan remaja dari Italia dan Ukraina melalui paduan suara serta pendidikan musik. Program ini memberi ruang bagi peserta dari latar belakang berbeda, termasuk mereka yang terdampak konflik dan bencana, untuk membangun persahabatan, kepercayaan diri, serta semangat kebersamaan.

Komitmen tersebut turut menjangkau Palestina melalui program ABF Voices of Jerusalem. Bekerja sama dengan Magnificat Institute, program ini menghadirkan pendidikan musik, paduan suara, pengembangan keterampilan sosial dan emosional, serta dukungan psikososial bagi anak-anak dan generasi muda dari Betlehem dan Yerusalem Timur.

Pada Oktober 2019, Bocelli juga tampil bersama penyanyi sopran Palestina, Zeina Barhoum, dalam kegiatan penggalangan dana yang diselenggarakan Andrea Bocelli Foundation bersama Galilee Foundation. Kegiatan tersebut berhasil menghimpun hampir 760.000 poundsterling untuk mendukung program pendidikan kedua yayasan.

Berbagai inisiatif itu memperlihatkan peran musik dalam membuka ruang dialog dan memperkuat solidaritas. Melalui pendidikan dan kesempatan untuk berkarya, anak-anak serta generasi muda diajak membangun harapan akan masa depan yang lebih baik.

Semangat serupa ingin dihadirkan dalam konser Bocelli di Indonesia. Founder Shoemaker Live, Prajna Murdaya, menyampaikan bahwa pertunjukan ini memiliki makna yang lebih luas, dengan perdamaian dan persatuan sebagai pesan penting yang ingin dibawa.

“Kami memahami bahwa bagi banyak orang, konser ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pertunjukan musik. Ada kepedulian mendalam terhadap mereka yang harus menghadapi konflik dan kehilangan. Kami mendengarkan setiap pandangan tersebut dengan hati terbuka,” ujar Prajna.

Ia menambahkan, Andrea Bocelli ingin menyampaikan harapan akan perdamaian, terutama bagi mereka yang hingga kini belum dapat merasakannya. Dalam pertunjukan tersebut, salah satu lagu juga akan didedikasikan untuk kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Dari Borobudur, Menyuarakan Harapan untuk Dunia

Konser Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026 di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Rangkaian pertunjukannya kemudian berlanjut pada 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Kehadiran Bocelli di Borobudur menjadi pertemuan istimewa antara warisan budaya Indonesia dan karya musik maestro dunia. Dengan latar kemegahan situs warisan budaya dunia tersebut, konser ini diharapkan menghadirkan pengalaman musikal yang berkesan sekaligus menyampaikan pesan tentang persatuan, kepedulian, dan perdamaian.

Perayaan tiga dekade album Romanza pun mendapat makna yang lebih luas melalui misi kemanusiaan yang menyertainya. Dari panggung pertunjukan hingga penggalangan bantuan bagi anak-anak terdampak konflik, konser ini membawa harapan agar musik dapat melampaui perbedaan dan menggerakkan aksi nyata bagi sesama.

Sebab, kekuatan musik tidak berhenti pada suara yang didengar, tetapi juga pada pesan yang tinggal di hati dan kebaikan yang tumbuh setelahnya.