Kumparan Logo

Anak Konsumsi MPASI Kemasan, Apakah Termasuk Ultra Processed Food?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak yang diberikan MPASI sesuai usianya. Foto: alice-photo/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak yang diberikan MPASI sesuai usianya. Foto: alice-photo/Shutterstock

Orang tua perlu cermat dalam memilih makanan untuk anak, termasuk makanan pendamping ASI (MPASI) yang sudah dikemas dan diproduksi oleh industri. Namun, apakah semua produk MPASI kemasan bisa dikategorikan sebagai ultra processed food (UPF)?

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), menjelaskan bahwa tidak semua makanan MPASI yang diproduksi oleh industri otomatis termasuk UPF. Pengelompokannya perlu melihat bagaimana makanan tersebut diproses.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K) dalam acara World Food Day 2026, Danone Indonesia dan UPH di Tangerang, Kamis (15/10/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

"Jadi kita harus lihat. Kalau dia memang sudah yakin UPF tentunya tidak menjadi pilihan utama. Tapi tetap saja pada kondisi-kondisi tertentu mungkin harus mengonsumsi produk-produk yang sudah jadi," ucap dr. Diana dalam acara World Food Day 2026, Danone Indonesia dan UPH di Tangerang, Kamis (15/10).

Menurutnya, orang tua tidak perlu langsung bersikap antipati terhadap semua makanan siap saji atau produk kemasan. Hal yang lebih penting adalah memahami kandungan dan proses pengolahan makanan sebelum memberikannya kepada anak.

Ilustrasi MPASI atau makanan bayi untuk anak perempuan. Foto: ABWitzPix089/Shutterstock

Dengan begitu, orang tua dapat lebih cermat menentukan pilihan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi si kecil.

Perhatikan Pola Makan dan Aktivitas Fisik Anak

Selain pemilihan makanan, dr. Diana juga menyoroti pentingnya memahami penyebab kelebihan berat badan atau obesitas pada anak. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diperiksa secara lebih mendetail sebelum orang tua menentukan langkah yang tepat.

Hal ini karena penanganan obesitas pada anak tidak bisa disamakan begitu saja dengan orang dewasa. Orang tua perlu memperhatikan pola makan, jenis makanan yang dikonsumsi, serta aktivitas fisik anak sehari-hari.

Selain obesitas, minuman manis seperti soft drink dapat merusak gigi anak Foto: Shutterstock

"Kalau pada anak masih tubuh ke atas, kalau orang dewasa tinggal tubuh ke samping," imbuhnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa anak masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga penanganan berat badannya perlu mempertimbangkan proses tumbuh kembang. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru membatasi makanan anak tanpa memahami kebutuhan gizinya.

“Jadi kalau pada anak biasanya kita pastikan dulu bagaimana aktivitas fisiknya, jenis makanan yang dia konsumsi apa. Itu sih lebih ke arah sana,” pungkasnya.

kumparan post embed