Anak Takut Buang Air Kecil saat Toilet Training? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Toilet training merupakan proses belajar bagi anak untuk buang air di toilet. Namun, sebagian anak bisa menolak ke toilet, menahan pipis, atau terus merasa ingin pipis karena takut. Kondisi ini dapat dipengaruhi pengalaman tidak menyenangkan maupun respons orang tua saat anak ingin pipis atau mengompol.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Margareta Triastuti, M.Psi, menjelaskan bahwa respons orang tua berperan penting dalam membentuk rasa aman anak. Salah satu contohnya dialami Gwen, anak dari Cresencia, yang sempat bolak-balik ke toilet hingga tiga kali dalam 45 menit setelah pengalaman dibentak saat meminta pipis di tengah kemacetan.
Kenapa Bentakan Bisa Bikin Anak Takut Pipis?
Menurut Margareta, orang tua merupakan sumber kelekatan dan rasa aman utama bagi anak. Pada usia dini, anak belajar menghubungkan suatu kejadian dengan respons yang diterimanya.
Ketika keinginan pipis atau kejadian mengompol berulang kali direspons dengan kemarahan, bentakan, atau rasa malu, anak bisa menganggap bahwa pipis akan membuatnya dimarahi.
“Kalau situasi anak mau pipis, ke toilet, atau mungkin terjadi ‘kecelakaan’ (ngompol), berulang kali diikuti dengan respons orang tua yang marah, membentak, mempermalukan, anak akan menangkap pola yang keliru, ‘Ooh kalau aku pipis, aku dimarahi’. Ia akan menjadi takut pipis karena takut akan dimarahi,” jelas Margareta pada kumparanMOM, Sabtu (17/10).
Selain respons orang tua, ketakutan juga bisa dipicu kondisi toilet yang gelap atau kotor, suara flush, pengalaman sakit saat pipis akibat infeksi saluran kemih, sembelit, atau terpeleset di kamar mandi.
Tanda Anak Takut Pipis dan Cara Mengatasinya
Beberapa tanda anak takut pipis antara lain menolak atau menangis saat diajak ke toilet, menahan pipis hingga mengompol, meminta memakai popok lagi, serta merasa tidak nyaman saat membahas toilet.
Untuk membantu anak merasa aman kembali, Margareta menyarankan orang tua meminta maaf jika pernah membentak, tetap tenang saat anak mengompol, dan menghargai usaha anak selama toilet training.
"Orang tua juga bisa membuat rutinitas ke toilet lebih menyenangkan melalui buku cerita, lagu, atau jadwal ke toilet tanpa tekanan. Hindari ancaman dan hukuman agar anak tidak semakin takut," jelasnya.
Namun jika anak mengeluh sakit saat pipis, mengalami demam, atau urine berdarah, segera periksakan ke dokter.
"Konsultasi dengan profesional juga diperlukan jika ketakutan berlangsung lebih dari 3–4 minggu, semakin intens, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak," pesannya.
