Kumparan Logo

Cara Mengawasi Anak Usia 7 Tahun saat Bermain di Luar Rumah

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Bermain di Luar Foto: alexkoral/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Bermain di Luar Foto: alexkoral/Shutterstock

Saat anak mulai senang bermain di luar rumah bersama teman-temannya, orang tua mungkin merasa khawatir dengan keselamatannya. Apalagi, anak usia 7 tahun biasanya mulai ingin memiliki kebebasan untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Lantas, seberapa ketat orang tua perlu mengawasi anak saat bermain di luar rumah?

Psikolog: Bukan Dikekang tapi Beri Penjelasan

Ilustrasi anak bermain dengan tetangga Foto: Shutterstock

Psikolog, Jovita Maria Ferliana, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pengawasan perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat kematangan anak, bukan dengan membatasi kebebasannya secara berlebihan.

“Yang dibutuhkan anak bukanlah pengawasan yang terlalu mengekang, tetapi pengawasan yang sesuai dengan usia dan tingkat kematangan anak,” jelas Jovita pada kumparanMOM, Jumat (23/10).

Menurutnya, anak usia 7 tahun masih sangat membutuhkan pengawasan orang dewasa. Meski mulai ingin mandiri, bermain bersama teman dan mengeksplorasi lingkungan merupakan bagian penting dari perkembangan sosial, emosional, dan kemandirian anak.

Namun, kemampuan anak dalam mengantisipasi bahaya belum berkembang sebaik orang dewasa. Karena itu, kebebasan bermain tetap perlu disertai batasan yang jelas.

“Untuk anak usia 7 tahun, terutama ketika bermain di lapangan atau ruang publik yang terbuka, sebaiknya tetap ada pengawasan langsung dari orang dewasa yang dipercaya,” ujarnya.

Orang tua juga perlu mengetahui lokasi anak bermain, dengan siapa ia bermain, siapa orang dewasa yang bertanggung jawab mengawasi, serta kapan anak harus kembali ke rumah.

Berikan Kebebasan secara Bertahap

Meski pengawasan penting, bukan berarti anak harus terus-menerus dilarang bermain di luar rumah. Menurut Jovita, pembatasan yang berlebihan karena rasa takut justru bisa membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keberanian, kemampuan bersosialisasi, dan kemandiriannya.

Prinsipnya, orang tua perlu memberikan kebebasan secara bertahap, sesuai kesiapan anak dan keamanan lingkungan tempatnya bermain.

Selain itu, komunikasi yang terbuka juga perlu dibangun sejak dini. Anak harus merasa aman untuk bercerita ketika bertemu seseorang yang membuatnya tidak nyaman atau mengalami kejadian yang membuatnya merasa terancam.

“Anak harus merasa aman untuk bercerita ketika ada seseorang yang membuatnya tidak nyaman, tanpa takut dimarahi atau disalahkan,” jelas Jovita.

Ia menegaskan, tujuan pengasuhan bukan membuat anak takut menghadapi dunia luar, melainkan membantunya belajar menghadapi dunia dengan aman.

“Jadi, bukan seberapa ketat kita membatasi anak, tetapi seberapa baik kita menciptakan lingkungan yang aman, memberikan pengawasan, dan membekali anak dengan keterampilan melindungi dirinya,” pungkasnya.