Merekam yang 'Bertumbuh', Cara Ayah Menyimpan Kenangan Masa Kecil Anaknya

Merekam tumbuh kembang anak adalah cara kami menyimpan potongan waktu yang tidak akan terulang. Sebagai fotografer, saya terbiasa mencari momen dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Namun, ketika subjeknya adalah Omar, anak saya sendiri, ada hal lain yang perlu saya pertimbangkan, yaitu bagaimana menyimpan kenangan masa kecilnya sekaligus menjaga ruang privatnya.

Perjalanan ini dimulai sejak Omar masih belum bisa berjalan, ketika setiap perkembangannya menjadi hal baru yang ingin kami abadikan.
Bersama Jumala, istri saya, kami berusaha hadir dalam keseharian Omar melalui hal-hal sederhana. Jumala, yang sebelumnya bekerja sebagai fotografer lepas, kini lebih banyak menghabiskan waktunya mendampingi Omar di rumah. Ia merancang berbagai permainan sensori yang kami lakukan secara rutin untuk mengenalkan Omar pada tekstur, bentuk, dan pengalaman baru.
Kreativitas Jumala membuat kegiatan sehari-hari menjadi ruang bermain sekaligus belajar, tempat Omar bebas mengeksplorasi dan menunjukkan rasa ingin tahunya.
Keseharian Omar tidak selalu diisi kegiatan yang kami rencanakan. Setiap Minggu, kami memberinya waktu untuk menonton tayangan yang kami pilih bersama. Kami memilih tontonan dengan visual dan transisi yang lambat, serta suara yang tidak mengejutkan, agar pengalaman menontonnya terasa lebih nyaman.
Di waktu lain, Omar menikmati cerita dari buku atau sibuk dengan permainan yang menarik perhatiannya. Bagi kami, hal-hal sederhana ini sama berharganya dengan pencapaian baru yang terlihat lebih besar. Dari kesehariannya, kami menyaksikan bagaimana Omar mengenali lingkungan, membangun kebiasaan, dan perlahan menemukan caranya sendiri untuk memahami dunia.
Di luar rumah, kami juga berusaha memberi Omar kesempatan untuk mengalami hal-hal baru. Perjalanan bersama ayah dengan sepeda, singgah di taman, bermain ayunan, hingga menikmati komidi putar menjadi bagian dari kenangan yang kami simpan.
Kami ingin Omar mengenal dunia melalui pengalaman langsung, melihat berbagai hal di sekelilingnya, dan tumbuh dengan rasa ingin tahu. Dalam perjalanan itu, kami tidak hanya merekam perubahan dirinya, tetapi juga menyadari betapa cepat waktu berlalu.
Kini, Omar semakin berani mencoba banyak hal sendiri. Ia mulai mengeksplorasi permainan dengan caranya, menaiki perosotan, hingga menggiring bola di atas rumput. Melihatnya tumbuh membuat saya menyadari bahwa foto-foto yang kami buat bukan sekadar catatan tentang perubahan fisiknya. Foto-foto itu juga menyimpan perjalanan kami sebagai orang tua, yang terus belajar memahami kebutuhan anak dan menentukan keputusan terbaik untuknya.
Sebagai fotografer, saya terbiasa mengabadikan momen untuk dibagikan kepada orang lain. Namun, sebagai ayah, saya belajar bahwa tidak semua kenangan harus diperlihatkan kepada publik. Kami memilih untuk tetap mendokumentasikan masa kecil Omar tanpa menjadikan wajahnya sebagai bagian dari cerita yang kami bagikan di ruang digital.
Keputusan ini justru mendorong kami mencari cara yang lebih kreatif untuk bercerita, melalui gerak, aktivitas, suasana, dan hubungan yang terjalin dalam keseharian. Bagi kami, menghormati privasi anak bukan berarti berhenti membagikan ceritanya, melainkan belajar menentukan bagian mana yang layak menjadi milik bersama dan bagian mana yang sebaiknya tetap menjadi kenangan keluarga.
