Sharenting, Ketika Tumbuh Kembang Anak Dijadikan 'Konten'

Bagi sebagian orang tua, membagikan momen anak menjadi cara untuk menyimpan kenangan, berbagi kabar dengan keluarga, atau menceritakan pengalaman selama menjalani peran sebagai orang tua. Namun, pernahkah terpikir bahwa unggahan tersebut juga bisa menjadi bagian dari jejak digital anak di masa depan?
UNICEF menyoroti bahwa anak-anak saat ini merupakan generasi pertama yang proses tumbuh kembangnya dapat terdokumentasi dan dibagikan secara luas melalui konten digital. Bahkan, jejak digital anak bisa mulai terbentuk sejak usia sangat dini, termasuk melalui unggahan orang tua sebelum anak lahir.
Kebiasaan inilah yang dikenal dengan istilah sharenting, Moms.
Apa Itu Sharenting?
Sharenting merupakan istilah yang berasal dari gabungan kata sharing dan parenting. Istilah ini merujuk pada kebiasaan orang tua membagikan informasi tentang anak di media sosial, baik berupa foto, video, maupun cerita mengenai keseharian dan tumbuh kembangnya.
Alasannya pun beragam. Ada orang tua yang ingin berbagi kebahagiaan, mendokumentasikan perkembangan anak, mencari dukungan dari sesama orang tua, hingga berbagi pengalaman yang dirasa bermanfaat bagi keluarga lain.
Meski sering dilakukan dengan niat baik, kebiasaan ini tetap perlu disikapi dengan bijak, Moms. Sebab, ketika foto atau cerita anak sudah diunggah ke internet, orang tua tidak selalu bisa mengendalikan siapa yang melihat, menyimpan, atau menggunakan kembali konten tersebut.
Jejak Digital Anak Bisa Terbentuk Sejak Dini
Sebuah tinjauan terhadap 27 penelitian mengenai sharenting dan jejak digital anak menemukan bahwa identitas digital anak dapat terbentuk sejak usia sangat dini, bahkan sebelum mereka lahir. Unggahan orang tua menjadi salah satu faktor yang berperan dalam membentuk jejak tersebut.
Artinya, ketika orang tua membagikan foto atau cerita tentang anak, informasi itu berpotensi menjadi bagian dari identitas digitalnya sebelum ia benar-benar memahami apa itu media sosial.
Di sisi lain, anak yang masih kecil belum tentu memahami konsekuensi dari foto atau video dirinya yang diunggah ke internet. Mereka mungkin belum mengerti bahwa konten yang terlihat lucu atau biasa saja saat ini dapat tersimpan, disebarkan, atau dilihat kembali oleh orang lain bertahun-tahun kemudian.
Bagaimana Cara Membagikan Momen Anak dengan Lebih Bijak?
Lantas, apakah orang tua harus berhenti mengunggah foto atau video anak di media sosial? Tidak selalu begitu, Moms. Yang terpenting adalah mempertimbangkan kebutuhan untuk berbagi sekaligus hak anak atas privasinya.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Misalnya, hindari mengunggah informasi pribadi seperti alamat rumah, lokasi sekolah secara langsung, atau rutinitas yang mudah dikenali. Orang tua juga sebaiknya tidak membagikan momen yang berpotensi mempermalukan anak, termasuk ketika ia sedang tantrum, menangis, atau berada dalam situasi yang rentan.
Ketika anak sudah cukup besar untuk memahami, ajak ia berdiskusi sebelum mengunggah foto atau video dirinya. Tanyakan apakah ia nyaman jika momen tersebut dibagikan. Jika anak mengatakan tidak, hargai keputusannya.
Kebiasaan ini sekaligus bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan consent atau persetujuan, serta membantu anak memahami bahwa setiap orang berhak menentukan bagaimana informasi tentang dirinya dibagikan.
Moms, perlu diingat, selain menyimpan kenangan, orang tua juga punya peran penting dalam menjaga privasi dan menghargai perasaan anak, termasuk ketika ia belum sepenuhnya mampu menyuarakan keinginannya sendiri.
