Kumparan Logo

TK di Cianjur Ajari Anak Simulasi Jaga Diri dari Orang Asing, Ini Kata Psikolog

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak diculik.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak diculik. Foto: Shutterstock

Anak perlu belajar menjaga diri sejak dini, termasuk mengenali situasi yang tidak aman dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi orang asing. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui simulasi atau praktik langsung.

instagram embed

Seperti yang dibagikan akun Instagram @tk.khairuummahalmiqbas, TKIT Khairu Ummah Al-Miqbas di Cianjur mengajarkan anak-anak simulasi menjaga diri dari orang asing. Melalui kegiatan ini, anak belajar mengenali situasi yang tidak aman, berani mengatakan "tidak", menjauh, serta meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.

Pentingnya Edukasi Menjaga Diri Sejak Usia TK

Ilustrasi Penculikan Foto: Shutterstock

Psikolog Pendidikan, Gita Aulia Nurani, Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa edukasi tentang menjaga diri penting diberikan sejak anak usia taman kanak-kanak. Penyampaiannya perlu menggunakan bahasa sederhana yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Anak perlu dibiasakan meminta izin kepada orang tua atau guru sebelum pergi bersama siapa pun. Selain itu, mereka juga perlu belajar menolak ajakan yang membuatnya tidak nyaman dan mencari bantuan ketika berada dalam situasi yang tidak aman.

"Fokusnya sebenarnya bukan membuat anak takut kepada semua orang asing, tetapi mengenali perilaku yang tidak aman, termasuk dari orang yang sudah dikenal," tegas Gita saat dihubungi kumparanMOM, Senin (19/10).

Simulasi Membantu Anak Memahami Cara Melindungi Diri

Ilustrasi kedekatan orang tua dan anak. Foto: LightField Studios/Shutterstock

Selain melalui penjelasan, praktik langsung atau simulasi dapat membantu anak memahami cara menjaga diri. Sebab, anak tidak hanya mendengar aturan, tetapi juga berlatih melakukan tindakan konkret, seperti menolak ajakan, menjauh, dan melapor kepada orang tua atau guru.

"Praktik langsung/simulasi dapat membantu karena anak tidak hanya mendengar aturan, tapi juga berlatih tindakan konkret," ungkapnya.

Ilustrasi ibu memeluk anak. Foto: Shutter Stock

Meski begitu, simulasi perlu dilakukan dengan aman melalui permainan peran. Anak sebaiknya diberi penjelasan sebelum kegiatan dimulai agar tidak merasa takut atau dipermalukan. Latihan juga perlu diulang dan dibahas kembali dengan bahasa sederhana.

Pengawasan Orang Dewasa Tetap Penting

Walaupun sudah mengikuti simulasi, anak tetap membutuhkan pendampingan dan perlindungan dari orang dewasa. Sebab, kemampuan anak mempraktikkan suatu tindakan dalam latihan belum tentu membuatnya mampu memberikan respons yang sama ketika menghadapi situasi nyata.

Ilustrasi Orang Tua Berbicara dengan Guru Anak di Sekolah. Foto: Shutterstock

"Keberhasilan dalam simulasi belum menjamin anak mampu merespons sama dalam situasi nyata," ujar Gita.

Oleh karena itu, edukasi menjaga diri perlu berjalan beriringan dengan pengawasan orang tua dan guru. Anak juga perlu memiliki ruang yang aman untuk bercerita tentang pengalaman atau kejadian yang membuatnya merasa tidak nyaman ya, Moms.

kumparan post embed