BPH Migas Kucurkan Rp 1 Triliun Bantu Pertamina untuk BBM Satu Harga

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Selang tangki BBM dilengkapi pengaman. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Selang tangki BBM dilengkapi pengaman. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga saat ini diklaim sudah diterapkan di 22 titik dari target 54 titik pada tahun ini. Kebijakan tersebut akan diberlakukan di berbagai wilayah Indonesia, khususnya kawasan 3 T (terdepan, terluar, dan terbelakang).

Untuk mencapai target tersebut, diperlukan lembaga penyalur untuk memastikan pasokan BBM terpenuhi. Namun, Pertamina yang diberikan tugas oleh pemerintah mengaku kebijakan terebut cukup menguras kas perusahaan karena untuk merealisasikan 22 titik saja Pertamina sudah mengeluarkan dana hingga Rp 300 miliar.

Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa, mengatakan akan membantu Pertamina dengan mengucurkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk membangun lembaga penyalur. Alasannya, dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diperoleh BPH migas Rp 1,2 triliun, selama ini yang digunakan hanya Rp 200 miliar.

"Yang Rp 1 triliun selama ini masuk ke kas negara, tapi enggak jelas ke mana. Kita mengusulkan uang itu untuk membantu Pertamina," kata Ifan, sapaan akrabnya usai menggelar High Level Meeting dengan Pertamina di kantor BPH Migas, Tendean, Jakarta, Jumat (18/8).

Ifan mengaku akan segera membahas masalah penggunaan dana tersebut dengan Pertamina dan pihak-pihak terkait, termasuk menyusun peraturan baru. Menurut dia, untuk menggunakan dana tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Kalau memang bisa masuk 2018, ya dijalankan. Tapi kalau enggak ya 2019," ujar Ifan.

Sesuai peta jalan BBM Satu Harga, pemerintah menargetkan pengoperasian 150 lembaga penyalur hingga 2019, masing-masing 54 titik pada 2017, 50 titik pada 2018, dan 46 titik pada 2019.