Dari Slipi hingga Cibubur, Perjalanan Kakek Zul Menjual Bunga

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang kakek berusia 80 tahun saat berjalan keliling memikul bunga hias dagangannya di kawasan Puri Beta, Kota Tangerang, Banten, Minggu (1/11/2026). Foto: Ratu Shafa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang kakek berusia 80 tahun saat berjalan keliling memikul bunga hias dagangannya di kawasan Puri Beta, Kota Tangerang, Banten, Minggu (1/11/2026). Foto: Ratu Shafa/kumparan

Kedua tangannya terlihat membawa bunga dalam pot. Di pundaknya, tergantung kantong plastik merah berukuran cukup besar yang berisi beberapa bunga lainnya.

Sambil berjalan, ia menjajakan bunga-bunga tersebut. Harganya Rp 50 ribu untuk pot berukuran kecil dan Rp 90 ribu untuk ukuran besar.

Seorang kakek berusia 80 tahun saat berjalan keliling memikul bunga hias dagangannya di kawasan Puri Beta, Kota Tangerang, Banten, Minggu (1/11/2026). Foto: Ratu Shafa/kumparan

Hampir setiap hari, Kakek Zul (80) berjualan bunga. Ia membawa delapan pot bunga dari rumah dengan mengandalkan tas ransel di punggung dan kantong plastik di tangan.

Untuk berjualan, ia mengandalkan angkutan umum (angkot) dan berjalan kaki. Rute yang ditempuhnya terbilang jauh. Berangkat dari kediamannya di Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, Kakek Zul berkeliling hingga Cibubur dan Ciracas di Jakarta Timur. Bahkan, ia juga menyeberang ke kawasan Ciledug, Tangerang.

"Enggak berat, udah biasa," kata Kakek Zul saat menceritakan aktivitas berjualannya.

Seorang kakek berusia 80 tahun saat berjalan keliling memikul bunga hias dagangannya di kawasan Puri Beta, Kota Tangerang, Banten, Minggu (1/11/2026). Foto: Ratu Shafa/kumparan

Bunga plastik yang dijualnya bukan modal sendiri, melainkan milik tetangganya yang ia bantu pasarkan. Di rumah, Kakek Zul tinggal bersama sang kakak yang juga berprofesi sebagai pedagang di pasar.

Pekerjaan ini sudah ditekuninya sejak 1996. Pendapatannya pun tak menentu. Sering kali, sejak pagi hingga pertengahan hari, hanya tiga pot bunga yang laku terjual.

Meski harus berpindah angkot dan membawa kantong plastik berisi bunga berkeliling antarkota di usia senja, Kakek Zul tetap tekun menjalankan usahanya setiap hari.