Dugaan Kekerasan Seksual ke Para Pelari

Dugaan kekerasan seksual yang terjadi di komunitas para pelari sedang ramai jadi perbincangan. Banyak korban yang akhirnya mengungkap aksi bejat pelaku.
Seperti apa pengakuan para korban? Berikut kumparan rangkum.
Korban Modus Sport Massage
Seorang terapis sport massage diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah perempuan saat memberikan layanan pijat olahraga. Dugaan tersebut mencuat setelah salah satu korban membagikan pengalaman yang dialaminya melalui media sosial Threads.
Dalam unggahan nya di Threads, korban mengaku mengalami pelecehan seksual ketika menjalani sesi sport massage di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Minggu (18/10).
Saat dikonfirmasi kumparan terkait kasus ini, korban menceritakan awalnya membuat janji dengan terapis tersebut untuk menjalani sport massage karena mengalami keluhan pada bagian kaki dan punggung. Keduanya kemudian bertemu sekitar pukul 12.00 WIB di GBK.
Sebelum kejadian, korban mengaku tidak memiliki kecurigaan terhadap terapis tersebut. Ia mengetahui jasa pelaku dari rekomendasi seorang temannya yang juga perempuan.
Korban kemudian melihat akun Instagram terapis tersebut dan menemukan banyak perempuan menjadi kliennya. Sejumlah klien itu juga dikenal di komunitas lari Jakarta hingga tingkat nasional.
Kondisi tersebut membuat korban merasa percaya untuk menggunakan jasa terapis tersebut.
"Kalau awal tau pelaku ini dari teman. Teman rekomendasikan dia ke saya. Teman saya ini perempuan, dan waktu saya lihat di Instagram, klien pelaku ini ada banyak perempuan dan orang-orang yang well known di-running scene di Jakarta atau nationwide. Jadi saya merasa percaya tidak akan ada yang aneh-aneh," kata korban kepada kumparan, Jumat (6/11).
Namun, saat sesi pemijatan berlangsung, korban mulai merasa janggal ketika diminta melepas kaitan bra. Terlebih, sesi terapi dilakukan di area terbuka atau outdoor di kawasan GBK.
"Saya merasa janggal saat diminta melepas kaitan bra, terlebih treatment dilakukan di area publik (outdoor)," jelasnya.
Kecurigaan korban semakin muncul ketika terapis mulai memijat bagian punggung dan pundaknya. Menurut pengakuannya, tangan terapis kemudian berlanjut ke bagian dada dan meraba sisi payudaranya dari atas ke bawah selama beberapa kali.
"Saat memijat punggung dan pundak, tangannya berlanjut ke dada dan meraba sisi payudara saya dari atas ke bawah selama beberapa repetisi," jelasnya.
"Meski tidak nyaman, saya mengikuti arahannya karena menganggap dia lebih expert," lanjutnya.
Ia mengaku tidak memahami alasan terapis memijat bagian dada, sementara keluhan yang disampaikannya sejak awal berada di bagian punggung dan kaki.
Meski merasa tidak nyaman, korban mengaku tetap mengikuti arahan terapis karena menganggap orang tersebut lebih memahami teknik pemijatan.
Setelah sesi pemijatan selesai, terapis tersebut kembali menyampaikan permintaan maaf. Namun, ia mengaku saat itu sudah tidak fokus dan hanya ingin segera meninggalkan lokasi.
Korban mengatakan akhirnya memutuskan menceritakan pengalaman tersebut ke publik setelah mendengar adanya perempuan lain yang diduga mengalami kejadian serupa.
"Aku mendengar ada korban lain. Aku jadi yakin kalau korbannya nggak cuma satu atau dua orang," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan terapis tersebut telah menyampaikan permintaan maaf. Meski demikian, ia menilai permintaan maaf itu tidak menunjukkan kesungguhan dan terkesan generik.
"Aku kecewa karena permintaan maaf dia terlihat tidak sincere dan terkesan generik, seolah-olah ini adalah hal yang remeh," kata dia.
Dalam unggahannya, korban turut mengingatkan para pelari, khususnya perempuan, agar lebih berhati-hati dalam memilih pelatih maupun tenaga profesional yang memberikan layanan terkait olahraga dan pemulihan tubuh, termasuk terapis sport massage.
Ia juga menegaskan bahwa layanan sport massage yang dimaksud berbeda dengan fisioterapi.
"Ini bukan fisio ya. Ini sport massage. Ini berbeda dengan fisio," tegasnya.
Permohonan Maaf Terapis
kumparan sudah bertanya soal dugaan pelecehan itu kepada terapis sport massage tersebut. Lewat akun Threads nya, ia menyampaikan permohonan maafnya sebagai berikut:
Dear All,
Sehubungan dengan berkembangnya pemberitaan yang tengah ramai diperbincangkan atas nama saya.
Dari lubuk hati yang terdalam, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang timbul akibat pemberitaan ini.Guna menghindari fitnah dan kesalahpahaman yang semakin meluas, apabila ada pihak yang merasa masih memiliki urusan yang belum selesai, silakan untuk menghubungi saya langsung melalui pesan pribadi (Direct Message / DM) Instagram ini.
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa, dukungan, serta kepercayaan yang diberikan oleh keluarga, sahabat, teman, klien, netizen, dan seluruh pihak yang senantiasa mendampingi saya. Semoga permasalahan ini dapat segera selesai dengan baik.
Salam,
M. Syahrul.
Korban Mengaku 7 Tahun Dibungkam
Seorang perempuan yang mengaku pernah mengalami tindakan pemaksaan hubungan seksual oleh seseorang yang disebut berkaitan dengan aktivitas kepelatihan olahraga.
Unggahan itu dibagikan oleh akun Threads @heyoputraa pada Sabtu (7/11). Dalam keterangannya, pemilik akun menyebut cerita tersebut berasal dari seseorang yang sebelumnya pernah menyampaikan pengalaman serupa kepadanya. kumparan sudah diizinkan untuk mengutip.
Pemilik akun juga menyebut perempuan tersebut telah menyimpan pengalaman itu selama tujuh tahun karena takut untuk bercerita. Ia kemudian membagikan tangkapan layar percakapan yang memperlihatkan pengakuan perempuan tersebut.
"Aku malu kak mau cerita ini," demikian salah satu pesan yang terlihat dalam tangkapan layar.
Perempuan itu mengaku sempat berpikir bahwa pengalaman yang dialaminya merupakan kesalahannya sendiri. Ia juga menyebut takut menceritakan kejadian tersebut kepada sahabat karena khawatir tidak dipercaya atau justru dianggap sebagai pihak yang bersalah.
Dalam percakapan lain, perempuan tersebut mengungkapkan bahwa dirinya telah bungkam selama tujuh tahun. Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan orang yang disebut dalam ceritanya tidak menerima apabila dirinya berani berbicara.
Tangkapan layar tersebut turut memuat dugaan bahwa hubungan antara keduanya bermula dari aktivitas latihan olahraga. Perempuan itu menyinggung pengalaman mengikuti latihan strength training dan lari, yang menurut pengakuannya kemudian dikaitkan dengan permintaan imbalan berupa hubungan seksual.
Dalam salah satu pesan, ia mempertanyakan mengapa jasa mengajarkan latihan fisik harus dibayar dengan tubuh. Ia juga menyebut orang yang dimaksud memiliki kesan memaksa untuk melakukan hubungan seksual.
Pemilik akun @heyoputraa menyebut cerita yang dibagikannya baru berasal dari satu orang. Ia menyinggung kemungkinan adanya korban lain, tetapi tidak menyertakan keterangan maupun bukti terverifikasi mengenai jumlah korban tersebut.
Unggahan itu kemudian mendapat respons dari warganet. Sejumlah pengguna Threads menyampaikan dukungan kepada perempuan yang bercerita, sementara sebagian lainnya mengaku pernah mengalami pengalaman serupa dalam percakapan dengan orang yang sama.
Cerita Perempuan yang Nyaris Jadi Korban
Seorang perempuan turut membagikan pengalaman pribadinya saat pernah mengenal sosok tersebut pada 2018 lalu.
Kepada kumparan melalui pesan langsung (direct message/DM), perempuan itu menjelaskan bahwa pengalamannya berbeda dengan dugaan kasus yang kini mencuat. Ia mengaku pertama kali mengenal terduga pelaku melalui aplikasi kencan (dating app) pada akhir 2018, bukan melalui hubungan profesional sebagai pelatih dan klien.
Ia mengatakan, dirinya membagikan pengalaman tersebut di Threads karena terkejut mengetahui dugaan pelecehan seksual yang kini disebut melibatkan klien terduga pelaku.
"Saya membagikan pengalaman saya di Threads karena cukup terkejut ketika mengetahui kasus ini, terutama karena sekarang dugaan pelecehan tersebut melibatkan kliennya sendiri," ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/11). kumparan diberikan izin untuk mengutipnya.
Perempuan tersebut mengaku mereka sama-sama bekerja sebagai pelatih di industri kebugaran sejak 2018. Namun, keduanya hanya pernah bertemu satu kali. Ia mengaku merasa tidak nyaman saat itu sehingga memilih menghindari pertemuan berikutnya.
"Alhamdulilah, dalam kasus saya, dia 'hanya' mencoba dan saya berhasil menghindari situasi tersebut dengan selamat," katanya.
Ia juga menyebut terduga pelaku sempat mengganti akun Instagram pada awal 2019. Setelah perubahan akun tersebut, ia mengaku tidak lagi mengikuti akun baru yang bersangkutan.
Meski memiliki pengalaman pribadi dengan sosok tersebut, perempuan itu menegaskan tidak bermaksud menyamakan pengalamannya dengan apa yang dialami perempuan-perempuan lain yang kini mengaku menjadi korban.
"Saya sadar pengalaman saya tidak sebanding dengan apa yang dialami para korban lainnya, dan saya sangat prihatin dengan apa yang mereka alami," tuturnya.
Ia menjelaskan, unggahannya di media sosial semata-mata bertujuan menceritakan pengalaman ketika pertama kali mengenal terduga pelaku. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi informasi tambahan dalam pemberitaan, sekaligus membantu pengungkapan kasus tersebut.
Sebagai sesama pekerja di industri kebugaran, ia mengaku semakin terkejut ketika mengetahui dugaan pelecehan seksual tersebut disebut melibatkan klien terduga pelaku.
"Saya lebih kaget karena korbannya sekarang mostly klien ya, saya pikir karena kami kenal di aplikasi ya, jadi dia begitu ya," ungkapnya.
Menurut dia, hubungan profesional antara pelatih dan klien semestinya dibangun dengan batasan yang jelas serta rasa aman. Karena itu, dugaan pelecehan dalam relasi tersebut menjadi hal yang mengejutkan baginya.
Ia berharap kasus ini dapat ditangani dengan baik dan para perempuan yang mengaku menjadi korban mendapatkan keadilan.
