Golkar soal Tokoh Politik-Pimpinan Parpol Disadap Listyo Dkk: Sangat Mungkin Terjadi

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menilai penyadapan terhadap sejumlah tokoh politik, termasuk politikus di internal partainya, sangat mungkin terjadi.
Pernyataan itu disampaikan menyusul terungkapnya dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh lainnya yang menyeret nama eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Doli mengatakan, praktik penyadapan kerap menjadi bahan candaan di kalangan politikus. Namun, menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan jika melanggar ketentuan etik maupun hukum.
“Ya, itu yang saya katakan tadi, kan sebetulnya di dunia politik ya, sadap-menyadap ini ya kita kan sering juga canda-candaan, ‘Hati-hati ngomong, nanti lo handphone lo disadap,’ kira-kira begitu ya. Ya, menurut saya walaupun itu tidak bisa dibenarkan tadi sekali lagi ya, secara etik, mungkin juga secara hukum ya, tapi itu sangat mungkin terjadi, gitu ya, sangat mungkin terjadi,” kata Doli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/11).
Ia menilai dugaan penyadapan terhadap pimpinan partai politik dan politikus perlu diungkap lebih lanjut. Publik perlu mengetahui siapa saja yang menjadi sasaran serta dalam konteks apa penyadapan tersebut dilakukan.
“Dan ya, selama ini mungkin ya, kalau tadi disebutkan ada pimpinan partai politik, para politisi gitu ya, ya sangat mungkin terjadi saja. Ya kita tidak tahu itu siapa-siapa yang disadap itu ya. Mungkin itu nanti juga yang akan juga perlu diungkap, gitu ya, dan kemudian dalam kaitan dan konteks apa juga penyadapan itu dilakukan di luar penyadapan presiden, ya,” lanjutnya.
Doli: Jangan-jangan Saya Juga Disadap
Meski demikian, Doli menilai dampak dan implikasi penyadapan terhadap politikus tidak sebesar jika tindakan tersebut menyasar seorang presiden. Ia menyebut dugaan penyadapan terhadap Prabowo sebagai peristiwa besar bagi negara.
“Tapi kan saya kira akan berbeda urusannya ya, dampak dan kemudian implikasinya kalaupun itu terjadi tidak tidak seberat pada saat presiden, gitu ya. Menurut saya presiden ini sesuatu yang ya mungkin ini peristiwa besar, ya, peristiwa besar yang dialami oleh negara kita, bangsa kita yang seorang presidennya ada yang menyadap, gitu, oleh orang-orang, orang-orang yang pernah dipercaya untuk bantu membantu memajukan dan membangun bangsa ini, gitu,” ujarnya.
Doli mengaku masih menunggu informasi lebih lanjut mengenai siapa saja yang menjadi sasaran penyadapan dan informasi apa yang diduga disadap.
“Nah, jadi kalau soal kembali ke soal politik ini ya kami menunggu informasi lebih lanjut saja, gitu ya, kan. Siapa dan kemudian apa yang disadap, gitu. Saya enggak tahu, jangan-jangan juga saya disadap juga kan,” sambung Doli.
Ia juga mengatakan belum sempat berkoordinasi dengan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengenai dugaan penyadapan terhadap sejumlah politikus tersebut.
“Belum, belum. Kami ini kan peristiwa kan baru tadi tadi kemarin ya, kemarin, saya belum sempat koordinasi dengan pimpinan kami di Partai Golkar, gitu ya. Ya, mudah-mudahan ya kalaupun terjadi sadap-menyadap itu tidak ada kaitannya dengan hal-hal ya, jadi hal-hal yang biasa sajalah, tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan soal penyelenggaraan pemerintahan dan seterusnya, gitu ya. Mudah-mudahan aman-aman saja,” kata Doli.
Golkar Minta Motif Penyadapan Diungkap
Doli tidak menutup kemungkinan penyadapan terhadap Prabowo dan sejumlah pimpinan partai politik berkaitan dengan kepentingan politik. Namun, ia menegaskan dugaan tersebut harus dibuktikan melalui pengungkapan motif oleh kepolisian.
“Terus ditambahkan juga yang disadap itu juga adalah pimpinan-pimpinan partai politik yang lain. Nah, ini kaitannya apakah dengan ada urusan dengan soal politik juga, gitu kan. Politik-politik yang seperti apa, ya kan. Politik dengan tujuan apa. Karena kalau ini tidak diklarifikasi, menurut saya ini persepsinya bisa negatif. Sadap-menyadapnya, kita disadap tanpa pengetahuan kita kan kita juga pasti merasa, ‘Loh, ada apa kok saya disadap?’ Apalagi kalau dengan ada tujuan politik, misalnya,” kata Doli.
Ia meminta polisi mengungkap tujuan, motif, serta pihak yang berkepentingan di balik dugaan penyadapan tersebut.
“Apa tujuan politik itu. Nah, itu yang mungkin saya kira akan terus harus diungkap, tadi motif, ya, atas kepentingan apa, kepentingan siapa, dan kalau memang ada ada motif politiknya, untuk kepentingan politik apa,” pungkas Doli.
Listyo Sigit Jadi Tersangka
Sebelumnya, eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Ia menjadi tersangka bersama dua orang lainnya, yakni Kadivkum Polri Irjen Pol Ahrie Sonta dan Irjen Pol Eko Hadi Santoso.
“Terhadap para tersangka tersebut diduga telah melakukan penyadapan tanpa prosedural atau illegal tapping terhadap nomor telepon Presiden Republik Indonesia, pejabat negara, tokoh-tokoh politik, kemudian media, tokoh ormas, LSM, dan para pengusaha,” kata Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Selasa (3/11).
Asep mengatakan, ketiganya dijerat dengan tiga pasal dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.
