Hawa Terasa Panas? BMKG Catat Suhu Udara Mencapai 39,2°C

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gerah. Foto: Kmpzzz/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gerah. Foto: Kmpzzz/Shutterstock

Hawa panas atau gerah sudah berlangsung beberapa pekan. BMKG mencatat suhu udara maksimum sepekan terakhir bahkan mendekati 40°C.

BMKG menjelaskan, pekan ini suhu udara maksimum tercatat di:

  • Lampung 39,2°C pada Rabu, 21 Oktober

  • Jawa Barat 39,0°C pada Rabu, 21 Oktober

  • Kalimantan Selatan 38,7°C pada Selasa, 20 Oktober

"Penyebab utama adalah minimnya tutupan awan, terbatasnya curah hujan, serta pengaruh El Nino sangat kuat dan IOD (Indian Ocean Dipole) positif,” kata BMKG, Jumat (23/10).

Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sementara itu, ahli BRIN Prof Thomas Djamaluddin di akun Instagramnya menjelaskan mengapa kota-kota di Jawa panas sekali Oktober ini, sampai malam pun gerah.

Menurutnya, ada 4 sebab, yaitu:

  • Posisi matahari di atas kepala sehingga pemanasan lebih intens.

  • Tutupan awan minim saat akhir kemarau, apalagi ada efek El Nino yang kering, jadi siang hari sangat terik.

  • Efek pendinginan angin dari daerah musim dingin di selatan sudah berhenti.

  • Efek pemanasan kota (urban heat island) akibat emisi CO2 dari aktivitas manusia (industri, transportasi, rumah tangga) yang menjebak panas sehingga tidak dilepaskan ke antariksa saat malam.

Karhutla

Lebih lanjut, BMKG mengungkapkan kondisi kering dan panas ini juga menyumbang pada karhutla. "Kombinasi kurangnya awan dan terbatasnya air hujan mengintensifkan pemanasan permukaan siang hari serta mempercepat penurunan kadar air vegetasi,” kata BMKG.

Seseorang menaiki perahu kayu di Sungai Musi saat kabut asap dari kebakaran hutan menyelimuti daerah tersebut di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (15/10/2026). Foto: Abriansyah Liberto/REUTERS

BMKG mencatat titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (10 hari terakhir) terpantau di Kalimantan Tengah: 3.794 titik, Sumatera Selatan: 1.595 titik, Papua Selatan: 1.516 titik

Sebaran asap masih terdeteksi di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Tetap Ada Hujan

Kendati kondisi kering mendominasi, beberapa daerah tetap mengalami hujan tinggi di Sumatera Utara: 190,6 mm/hari, Sumatera Barat: 130,7 mm/hari, Aceh: 119,0 mm/hari, Kalimantan Barat: 83,0 mm/hari, Papua Tengah: 78,0 mm/hari.

Warga berdiri di beranda rumahnya yang terendam banjir di Batu Lima Desa Krueng, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Rabu (21/10/2026). Foto: Rahmad/ANTARA FOTO

Pemicu hujan lebat ini adalah Aktivitas MJO, Gelombang Kelvin, Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), perlambatan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang hangat.

Prakiraan Cuaca 23-29 Oktober 2026

BMKG juga merilis prakiraan cuaca Indonesia sepekan ke depan yang berlaku dari tanggal 23-29 Oktober 2026, yaitu:

Potensi Utama: Sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan rendah hingga menengah (0–150 mm/dasarian).

Wilayah Kering: Meliputi sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.

Penanganan area sawah yang terancam kekeringan menggunakan pompa dan selang air di Demak, Jawa Tengah, Minggu (27/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

Faktor Penyebab Kering: dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat dan Dipole Mode Index (DMI) positif yang menekan/mengurangi pertumbuhan awan konvektif secara umum.

Adapun pemicu hujan lokal/regional adalah:

  • MJO (Madden-Julian Oscillation) aktif terdeteksi di perairan barat Aceh, Kepulauan Nias, Selat Malaka (utara-tengah), Perairan Tamiang–Langsa, dan Samudra Pasifik utara Papua.

  • Gelombang Rossby Ekuatorial aktif di Laut Natuna Utara.

  • Sirkulasi Siklonik diprakirakan terbentuk di perairan barat Aceh dan Samudra Pasifik utara Papua.

  • Daerah Pertemuan & Perlambatan Angin berpotensi terbentuk di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

  • Kondisi atmosfer labil teramati di sebagian Sumatera bagian utara–tengah, Jawa, Kalimantan, dan Papua.

Istilah dalam dunia cuaca Foto: Dok. BMKG