Hidup di Dekat Tumpukan Sampah TPA Galuga, Warga Berhadapan dengan Risiko Kesehatan

Bagi warga yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan bau menyengat.
Mereka juga menghadapi risiko gangguan kesehatan, mulai dari masalah pernapasan saat kebakaran hingga keluhan gatal-gatal dan banyaknya lalat di lingkungan permukiman.
Pengalaman warga menunjukkan bahwa dampak keberadaan TPA dapat dirasakan dalam berbagai situasi. Salah satunya ketika kebakaran melanda kawasan tersebut pada awal September 2026 dan asapnya mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Kebakaran di kawasan TPA Galuga bermula pada 7 September 2026 di lahan perkebunan. Api kemudian merambat ke area tumpukan sampah akibat tiupan angin kencang.
Lokasi kebakaran berada di sisi timur, tepatnya di area tumpukan sampah lama yang berbatasan dengan ladang warga. Sementara itu, aktivitas pembuangan sampah di sisi barat tetap berlangsung.
Kobaran api di permukaan aktif selama 5–6 hari, kemudian disusul kepulan asap yang bertahan sekitar 10 hari. Petugas juga menangani bara di lapisan dalam timbunan sampah atau hotspot melalui penyiraman air dan pemantauan menggunakan kamera thermal drone. Bara tersebut akhirnya padam setelah hujan turun.
Selama kejadian, asap kebakaran berdampak pada kesehatan warga. Berdasarkan laporan Pemerintah Kabupaten Bogor, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi mata menjadi keluhan yang banyak ditangani dalam pelayanan posko kesehatan di Posko Cimangir dan Desa Dukuh.
Anis (65), warga yang tinggal sekitar 200 meter dari area tumpukan sampah, merasakan langsung dampak kebakaran tersebut. Ia mengalami gangguan pernapasan yang membuatnya batuk selama berhari-hari.
“ Nyesek, batuk-batuk sampai seminggu enggak sembuh-sembuh,” jelas Anis ditemui kumparan di sela-sela aktivitasnya memulung di TPA Galuga.
Selain gangguan kesehatan, kebakaran juga membuat warga khawatir api merambat ke permukiman. Anis menceritakan, warga sempat kesulitan beristirahat selama tiga malam berturut-turut. Sejumlah keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil juga terpaksa mengungsi demi menghindari paparan asap.
Menanggapi kondisi tersebut, konsultan lingkungan dan sosial Nurul Fadhlya Hidayatunnisa menjelaskan, kebakaran di tempat pembuangan sampah memang dapat menjadi persoalan kesehatan lingkungan yang serius.
Asap yang dihasilkan berpotensi mencapai permukiman, bahkan paparannya bisa berlangsung selama proses pemadaman.
“Partikel halus seperti PM2,5 dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan memperburuk gangguan pernapasan maupun penyakit jantung, sementara karbon monoksida dapat mengganggu pasokan oksigen dalam tubuh,” jelas dia dihubungi kumparan.
“Pembakaran sampah campuran juga berpotensi melepaskan bahan kimia berbahaya, termasuk logam tertentu serta dioksin dan furan, bergantung pada material dan kondisi pembakarannya,” imbuhnya.
Menurut Nurul, bayi, anak-anak, dan lansia memang membutuhkan perlindungan ekstra ketika kebakaran terjadi. Bayi, misalnya, memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang dan tidak dapat mengandalkan masker sebagai perlindungan utama.
Karena itu, ketika asap terus masuk ke rumah, kelompok rentan perlu mendapat akses ke tempat dengan kualitas udara yang lebih baik atau dipindahkan sementara ke lokasi yang lebih aman.
Mengapa Sampah di TPA Bisa Terbakar?
Lamanya penanganan kebakaran di TPA Galuga juga berkaitan dengan kondisi timbunan sampah. Meski api di permukaan sudah tidak terlihat, bara dapat bertahan di bagian dalam dan kembali memunculkan asap.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah metode pengelolaan sampah. Pada area yang dikelola Pemerintah Kabupaten Bogor, TPA Galuga masih menerapkan sistem pembuangan terbuka atau open dumping. Sementara itu, area yang dikelola Pemerintah Kota Bogor telah menggunakan sistem sanitary landfill.
Dalam sistem sanitary landfill, sampah ditempatkan dan dikelola dengan prosedur tertentu, termasuk penutupan menggunakan material yang sesuai dan pengendalian air lindi. Penerapannya bertujuan mengurangi dampak lingkungan dari penimbunan sampah.
Adapun pada sistem open dumping, sampah ditumpuk tanpa pengelolaan dan pengendalian yang memadai. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko lingkungan, termasuk kebakaran, terutama ketika gas dan panas terakumulasi di dalam timbunan.
Nurul menjelaskan, rongga dan retakan pada timbunan sampah dapat menjadi jalur masuk udara yang mendukung proses pembakaran.
“Ketika api mencapai timbunan, pembakaran membara atau smouldering dapat berkembang pada bagian yang masih memperoleh oksigen. Sampah juga menahan panas sehingga bara sulit mendingin. Inilah sebabnya api permukaan dapat terlihat padam, sementara pembakaran di dalam masih berlangsung dan asap kembali muncul,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas juga perlu memastikan bara di bagian dalam timbunan benar-benar padam agar tidak memicu kebakaran kembali.
Gatal-Gatal hingga Lalat di Permukiman
Gangguan kesehatan yang dirasakan warga sekitar TPA Galuga tidak hanya muncul ketika kebakaran terjadi. Dalam keseharian, mereka juga menghadapi persoalan lain, seperti keluhan gatal-gatal dan keberadaan lalat di lingkungan tempat tinggal.
Anis, misalnya, menceritakan bahwa suaminya, Rusdi, masih mengalami gatal-gatal meskipun telah menjalani pengobatan. Keluhan tersebut muncul ketika suaminya sering bersinggungan langsung dengan area tumpukan sampah dalam aktivitas memulung sehari-hari.
“Masih gatal-gatal. Berobat udah. Masih gatal, kalau malam gatal dia. Kalau pulang harus mandi air hangat,” kata Anis.
Keluhan itu menjadi salah satu gambaran persoalan kesehatan yang dihadapi warga yang beraktivitas di sekitar timbunan sampah.
Di luar keluhan kulit, keberadaan lalat juga menjadi perhatian warga. Serangga itu tidak hanya ditemukan di sekitar lokasi pembuangan, tetapi juga dikeluhkan oleh warga yang tinggal cukup jauh dari titik utama penumpukan sampah.
Seperti yang dirasakan Yanti, salah seorang warga Desa Cijujung yang masih berada di perbatasan TPA Galuga,
“Soalnya kan kita jauh nih dari TPA ya, kok kenapa banyak banget lalat gitu?” keluhnya.
Untuk mengatasi gangguan tersebut, pihak DLH Kota Bogor rutin melakukan pengasapan atau fogging di permukiman warga. Namun, menurut Nurul, pengasapan secara berkala tidak cukup jika dijadikan satu-satunya metode pengendalian lalat.
Sebab, fogging terutama menyasar lalat dewasa dan tidak menyelesaikan persoalan telur maupun larva yang berkembang di tempat perkembangbiakannya.
“Lalat rumah merupakan vektor mekanis yang dapat membawa kuman dari sampah ke makanan dan peralatan makan, sehingga risiko utamanya bagi warga adalah meningkatnya peluang penularan penyakit saluran pencernaan seperti diare, terutama pada bayi dan anak-anak yang lebih cepat mengalami dehidrasi,” ujar Nurul.
Ia menilai, pengendalian lalat perlu dilakukan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan, menutup wadah sampah dengan benar, serta mengendalikan tempat perkembangbiakan lalat secara terpadu. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada lalat dewasa yang terlihat, tetapi juga sumber kemunculannya.
Berbagai persoalan yang dihadapi warga di sekitar TPA Galuga memperlihatkan pentingnya perbaikan sistem pengelolaan sampah. Penanganan kebakaran, pengendalian hama, dan upaya menjaga kesehatan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan pengurangan timbunan sampah.
Salah satu upaya yang tengah dikembangkan adalah pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1.
Proyek yang dikembangkan Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) itu mulai dibangun pada September 2026 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari dan ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2028. Pembangunannya merupakan bagian dari amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Kehadiran PSEL diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi volume sampah yang saat ini masih berakhir di tempat pembuangan akhir. Namun, efektivitas pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas pengolahan di hilir.
Upaya dari hulu juga diperlukan, mulai dari pemilahan sampah di rumah tangga, penyediaan fasilitas pengangkutan yang memadai, hingga penegakan aturan terhadap pelanggaran pengelolaan sampah.
