Houthi Coba Serang Saudi, Ledakan Terdengar di Ibu Kota Riyadh

Konflik antara Houthi dan Arab Saudi masih panas. Kelompok pemberontak di Yaman itu kembali meluncurkan serangan ke ibu kota Saudi, Riyadh, Kamis (29/10).
Menurut laporan otoritas Saudi, serangan Houthi menyebabkan ledakan besar terdengar di Riyadh.
Aksi Houthi tersebut merupakan balasan atas serangan Saudi ke wilayah Yaman bagian barat. Houthi menyebut serangan Saudi menargetkan permukiman penduduk.
Sementara itu, otoritas Saudi menyatakan suara ledakan di Riyadh merupakan imbas dari keberhasilan mereka mencegat rudal Houthi sebelum mencapai target.
"Pertahanan udara mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang diluncurkan milisi teroris Houthi menuju Riyadh," kata juru bicara Koalisi Militer Saudi, Turki al-Malki, seperti dikutip dari AFP.
Sejak pertengahan tahun ini, kedua belah pihak nyaris setiap hari saling melancarkan serangan. Padahal, keduanya sempat memberlakukan gencatan senjata selama setahun.
Menurut laporan PBB, sejak konflik bersenjata kembali pecah, lebih dari 1.600 orang tewas di Yaman. Sementara itu, konflik tersebut turut menyebabkan 275 ribu warga kehilangan tempat tinggal.
Latar Belakang Konflik
Konflik Yaman bermula dari krisis di dalam negeri. Kelompok Houthi (Ansar Allah) dari utara, yang sejak 2004 menyuarakan ketimpangan politik dan pembangunan, mengambil alih Ibu Kota Sanaa pada akhir 2014 hingga awal 2015 dan membuat Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi yang diakui internasional tersingkir.
Intervensi Arab Saudi dimulai Maret 2015 saat Riyadh memimpin koalisi Arab atas permintaan Hadi untuk memulihkan pemerintahan sah.
Selain alasan keamanan perbatasan, Riyadh juga khawatir akan meluasnya pengaruh Iran yang dinilai punya kedekatan dengan Houthi, sehingga konflik dalam negeri itu meluas menjadi perang berkepanjangan dengan dampak kemanusiaan yang besar.
