Ini Naskah Akademik Keppres 2/2022, Ungkap Peran Soeharto di Serangan 1 Maret

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Presiden Indonesia Soeharto dikediamannya, di Jakarta, 8 Maret 2000. Foto: Agus Lolong/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Presiden Indonesia Soeharto dikediamannya, di Jakarta, 8 Maret 2000. Foto: Agus Lolong/AFP

Presiden Jokowi baru saja menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Namun, pada Keppres tersebut tidak menyebutkan Soeharto sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam Serangan Umum (SU) 1 Maret. Hal ini sempat diprotes politikus Gerindra Fadli Zon.

Sejarawan UI, Zainal C. Airlangga, menjelaskan alasan Soeharto tidak masuk ke dalam Keppres karena bukan salah satu dari pencetus serangan. Namun, ia mengatakan Soeharto tercatat dalam naskah akademik dalam serangan 1 Maret tersebut.

"Jadi di Keppres itu sepertinya memang hanya beberapa nama petinggi-petinggi pucuknya yang kemudian dijadikan representative dari peran-peran yang lainnya tetapi Pemerintah juga mengatakan bahwa memang secara naskah akademik nya peran-peran tokoh yang lain itu masih tetap disebutkan seperti itu," ucapnya.

Pernyataan ini sesuai dengan apa yang disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD belum lama ini. Dan, naskah akademik itu pun bisa diakses publik.

"Sejarah itu fakta. Jika faktanya beragam dan diperdebatkan maka yang menentukan kebenaran ilmiahnya adalah sejarawan dan forum ilmiah yang ditulis dalam Naskah Akademik. Sejarawan UGM bilang "tepat" jika nama Soeharto tak masuk Keppres sebab Keppres bukan historiografi," jelas Mahfud.

Dikutip dari laman resmi Polkam.go.id, Minggu (6/3), dalam naskah akademik tentang Serangan Umum 1 Maret menuliskan peranan Soeharto. Soeharto merupakan Komandan Brigade 10 atau Wehrkreise III di bawah pimpinan Bambang Sugeng.

"Yogyakarta merupakan bagian dari daerah pertahanan atau Wehrkreise III di bawah kepemimpinan Letkol. Soeharto. Sebelum ditunjuk sebagai komandan Wehrkreise III, Soeharto merupakan komandan Brigade 10 yang berkedudukan di Yogyakarta," tulis naskah akademik Serangan Umum 1 Maret halaman 41.

Soeharto diperintahkan untuk bergerilya bersama pasukannya di wilayah selatan Yogyakarta. Kemudian, Soeharto beserta pasukan menuju daerah Bantul untuk berkoordinasi dalam gerilya yang akan dilakukan.

"Pada saat agresi Militer Belanda 19 Desember 1948, Soeharto mendapat penjelasan dari Kol. Zoelkifli Loebis bahwa Soekarno dan Hatta masih berada di kota, tetapi Soedirman sudah bergerak ke luar kota mengadakan gerilya. Sore harinya, Soeharto beserta pasukannya memutuskan melakukan gerilya menuju Ngoto yang berada di sebelah selatan Yogyakarta."

Setelah lima hari melakukan perjalanan dan konsolidasi di wilayah Yogyakarta, Soeharto memutuskan memindahkan pasukannya dari Ngoto menuju dukuh Bibis, Desa Segoroyoso, yang terletak di Bantul. Bentul merupakan tempat yang tidak asing bagi Soeharto dan pasukannya.

"Desa Segoroyoso sudah sejak lama terbangun hubungan baik melalui pelatihan Laskar Rakyat. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Soeharto dapat mengkoordinasikan kembali kekuatan-kekuatan gerilya," terang naskah akademik.

"Berdasarkan surat dari Panglima Divisi III Bambang Sugeng tanggal 26 Desember 1948 tentang pembentukan Wehrkreise dan Subwehrkreise, Soeharto yang sudah ditunjuk sebagai komandan Wehrkreise III segera membentuk Subwehrkreise (SWK)," lanjut naskah itu.