Jelang Hari Santri 2026, Ahmad Luthfi Salurkan Beasiswa untuk Ratusan Santri

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng

Mendekati peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyerahkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak di Jawa Tengah.

Beasiswa tersebut merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas Ahmad Luthfi beserta Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

"Hari ini kita serahkan beasiswa terkait program Pesantren Obah. Di antaranya beasiswa Ma'had Aly untuk santri yang kuliah di pesantren serta beasiswa santri penggerak yang aktif dan tinggal di pesantren," kata Luthfi usai acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang Senin, 19 Oktober 2026.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng

Luthfi menjelaskan, para santri tersebut sangat memahami seluk-beluk pesantren, mulai dari karifan lokalnya, metedologi pengajarannya, dan sebagainya. Para santri yang kuliah tersebut tidak hanya memahami tradisi keilmuan pesantren, tapi juga memahami tradisi keilmuan di perguruan tinggi.

“Santri adalah garda terdepan, tidak hanya ilmu dunia dan akhirat tetapi juga menjaga NKRI dari degradasi moral generasi muda," katanya.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin menambahkan, program beasiswa ini tidak hanya dimaksudkan untuk membantu biaya pendidikan. Pemprov Jateng juga ingin mempertemukan mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi berbasis pesantren.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng

Ke depan, Taj Yasin membuka peluang untuk menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri Ma’had Aly. Mereka diharapkan dapat bertemu di daerah pengabdian, bertukar pandangan, dan bersama-sama melihat kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus umum dan KKN dari Ma’had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti satu bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana,” ujarnya.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng

Ia menambahkan, penentuan penerima beasiswa juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dan capaian akademik. Dengan begitu, bantuan pendidikan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan sekaligus mendukung keberlanjutan studi.

Manfaat beasiswa tersebut dirasakan langsung oleh Alaika Hilma, mahasantri semester enam Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an (MAYQ) Kudus, jurusan Ulumul Qur’an, Fakultas Ushuluddin.

Sebelum menerima bantuan, ia harus menjalani pekerjaan lepas atau freelance untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya kuliahnya.

Bagi Alaika, beasiswa dari Pemprov Jateng bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga mengurangi beban yang selama ini harus ia pikirkan di tengah kewajiban menyelesaikan pendidikan.

“Dengan adanya program ini saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, proses pengajuan beasiswa di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an berjalan lancar karena pihak lembaga turut membantu proses pemberkasan. Dari ma’had tersebut, sebanyak 13 mahasantri dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng

Pengalaman berbeda disampaikan Silvi Dyah Oktaviani, mahasiswa semester lima UIN Sunan Kudus asal Demak. Selain menjalani perkuliahan, ia tinggal di Pondok Pesantren Bustanul Furqon Asy-Syafi’iyyah, sebuah pesantren mahasiswa di Kudus.

Rutinitas Silvi tidak berhenti setelah kegiatan akademik di kampus selesai. Ia juga aktif dalam organisasi kampus dan mengikuti kegiatan pesantren, termasuk mengaji selepas Magrib hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Di tengah padatnya aktivitas tersebut, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup masih menjadi hal yang harus diperhitungkan.

Silvi mengaku kebutuhan sehari-harinya masih dibantu orang tua. Karena itu, ia mencari beasiswa untuk menunjang pendidikannya hingga kemudian mengetahui informasi mengenai program Santri Penggerak.

“Saya memang lagi cari beasiswa buat pendukung pendidikan saya agar lebih semangat. Kebetulan saya juga berada di pondok pesantren,” kata Silvi.

Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban keuangan, tetapi juga menjadi dorongan bagi mahasiswa yang menjalani pendidikan di kampus sekaligus menuntut ilmu di pesantren.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin serahkan beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak jelang Hari Santri 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Pemprov Jateng

“Menurut saya ini merupakan terobosan baru agar santri-santri sekaligus mahasiswa lebih semangat dalam belajar, menimba ilmu di universitas masing-masing ataupun di Ma’had Aly. Secara keuangan sangat membantu,” ujarnya.

Dalam program ini, setiap penerima memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester selama enam semester. Bantuan tersebut diharapkan membantu mahasiswa dan mahasantri melanjutkan pendidikan, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kapasitas akademik dan berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.