Kisah Pakde Ono, Penyandang Disabilitas Jualan Ketoprak Demi 2 Buah Hatinya

Muhamad Akso (50), atau yang akrab disapa Pakde Ono, setiap hari menjajakan ketoprak seharga Rp 15.000 per porsi di depan Gang Cipinang Pulo, Jakarta Timur. Usaha ini sudah ia jalani sejak tahun 1997.
Pakde Ono mengawali usahanya dari kawasan dekat Masjid Baitul Haq Jaktim sebelum akhirnya menetap di Cipinang Pulo.
Meski harga bahan baku terus berganti dari tahun ke tahun, ia memilih mempertahankan porsi ketopraknya di harga Rp 15.000 agar tetap terjangkau bagi warga sekitar.
Berdagang di Tengah Keterbatasan
Di balik aktivitas berdagangnya, Pakde Ono berstatus sebagai penyandang disabilitas. Kondisi ini dialaminya akibat penyakit rematik tulang parah yang diidapnya selama 25 tahun terakhir.
Saat pertama kali berjualan pada 1997, kondisi fisiknya masih normal. Namun seiring berjalannya waktu, penyakit tersebut membatasi pergerakannya.
Berdiri dalam durasi lama maupun mengulek bumbu kacang menjadi tantangan fisik tersendiri yang harus ia jalani setiap hari.
Menjadi Ayah Tunggal Usai Ditinggal Istri
Cobaan hidup Pakde Ono bertambah ketika sang istri pergi meninggalkannya tak lama setelah melahirkan anak kedua. Saat itu, perpisahan hanya disampaikan melalui pesan di telepon genggam, diikuti pengiriman surat cerai.
Sejak saat itu, Pakde Ono merawat kedua anaknya seorang diri. Anak sulungnya yang kini berusia 16 tahun sudah tidak lagi bersekolah dan memilih bekerja. Sementara itu, anak bungsunya yang berumur 7 tahun masih mengenyam pendidikan.
Seluruh kebutuhan hidup keluarga, sewa kontrakan di Cipinang, hingga biaya sekolah anak bungsunya, ditopang dari pendapatan jualan ketoprak.
"Alasan saya sekuat ini ya cuma anak-anak. Biar bagaimanapun kondisi fisik saya begini, ya saya jalanin aja . Yang penting anak-anak bisa tetap makan dan si kecil bisa terus sekolah," kata Pakde Ono.
