Kondisi Terakhir Relawan Suraji yang Meninggal saat Padamkan Karhutla Bromo

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suraji, DW Security Artotel PT Mitra Indo Permai, meninggal dunia, (23/10/2026). Sebelumnya, almarhum memadamkan karhutla di Bromo. Foto: IG/@bbtnbromotenggersemeru
zoom-in-whitePerbesar
Suraji, DW Security Artotel PT Mitra Indo Permai, meninggal dunia, (23/10/2026). Sebelumnya, almarhum memadamkan karhutla di Bromo. Foto: IG/@bbtnbromotenggersemeru

Relawan Suraji (44), akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soetomo Surabaya, Jumat (23/10). Ia merupakan korban saat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada 15 Oktober 2026 lalu.

"Korban kedua kebakaran Bromo, Tn. S (44 tahun), yang menjalani perawatan intensif di ruang ROI, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 12.00 WIB," ujar Staf Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD Dr. Soetomo, Adin Niken Primasari saat dikonfirmasi, Sabtu (24/10).

Niken menjelaskan, kondisi terakhir Suraji sebelum dinyatakan meninggal dunia yakni mengalami luka bakar berat sekitar 49 persen luas permukaan tubuh.

"Terutama pada area wajah hingga dada, disertai cedera saluran pernapasan akibat menghirup udara panas dan asap (trauma inhalasi). Selama perawatan, pasien memerlukan bantuan mesin pernapasan (ventilator)," jelasnya.

Dalam perkembangannya, kata Niken, Suraji mengalami sejumlah komplikasi, terutama infeksi berat, infeksi paru, anemia, penurunan kadar protein darah, dan gangguan keseimbangan elektrolit.

Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan proses pendinginan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (13/9/2026). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

"Tim medis telah memberikan penanganan intensif meliputi pemberian cairan, antibiotik, transfusi darah, pemberian protein, koreksi elektrolit, serta penanganan luka bakar," ujar dia.

Pada Jumat (23/10) pagi, kondisi Suraji mengalami perburukan akibat syok sepsis atau komplikasi infeksi berat yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah dan fungsi organ vital.

"Tim medis telah melakukan berbagai upaya penanganan intensif, namun kondisi pasien terus menurun hingga dinyatakan meninggal dunia pada pukul 12.00 WIB," ungkapnya.

Pihak RSUD dr Soetomo Surabaya mengucapkan bela sungkawa atas kepergian relawan Suraji tersebut.

"Kami mengucapkan turut berduka cita mendalam kepada pihak keluarga atas meninggalnya Tn. S," ujarnya.