Memungkur di Pantai Mertasari Sanur, Tradisi Suci Mengantar Roh Menuju Surga

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rangkaian upacara adat Atma Wedana atau memungkur di Griya Karang Tampakgangsul, Kamis (22/10/2026). Foto: Dok. Griya Karang Tampakgangsul
zoom-in-whitePerbesar
Rangkaian upacara adat Atma Wedana atau memungkur di Griya Karang Tampakgangsul, Kamis (22/10/2026). Foto: Dok. Griya Karang Tampakgangsul

Sejak matahari pagi menyapa, ribuan orang mulai memadati Pantai Mertasari yang terletak di Desa Adat Intaran, Sanur, pada Kamis (22/10). Mereka mengikuti upacara Puja Atma Wedana atau yang dikenal oleh masyarakat Bali sebagai memungkur.

Memungkur merupakan bagian dari rangkaian Pitra Yadnya yang bertujuan menyucikan roh leluhur (atma) setelah pelaksanaan ngaben. Apabila roh leluhur tersebut telah suci, roh tersebut dapat berubah tingkatan menjadi Dewa Pitara (tingkat kesucian tertinggi).

Acara yang berlangsung sejak 18 Oktober tersebut melibatkan tiga griya, yakni Griya Karang Tampakgangsul, Griya Timbul Intaran Sanur, dan Griya Tambak Sari Intaran.

Rangkaian upacara adat Atma Wedana atau memungkur di Griya Karang Tampakgangsul, Kamis (22/10/2026). Foto: Dok. Griya Karang Tampakgangsul

Prosesi berlangsung khidmat dengan melibatkan keluarga besar griya, kerabat dan rekan (semeton), serta masyarakat yang turut ngayah (ikut bergotong royong) sebagai wujud bakti kepada leluhur.

Ketua Panitia Atma Wedana Griya Karang Tampakgangsul, Ida Bagus Gede Gana Putra Karang, mengatakan upacara Atma Wedana kali ini menjadi momentum bagi tiga griya untuk bersama-sama menyelenggarakan karya tersebut.

"Kebetulan ada salah satu pendeta kami atau pedanda kami yang meninggal. Setelah itu kami mengadakan acara memungkur atau penyucian roh," kata Gana ketika dihubungi kumparan pada Kamis (22/10).

Menurut Gana, pelaksanaan karya tersebut tidak hanya melibatkan keluarga dari griya penyelenggara. Masyarakat dari berbagai wilayah di Bali juga datang untuk mengikuti prosesi, bahkan tanpa undangan khusus dari panitia.

"Kami tidak mengundang, kami tidak memaksa, kami tidak mengajak. Kami menyampaikan bahwa kami akan mengadakan acara seperti ini. Biasanya masyarakat pasti datang untuk mendaftar mengikuti acara ini," ujarnya.

Ia memperkirakan jumlah puspa yang mengikuti upacara mencapai 535. Sementara itu, masyarakat yang mengikuti Puja Atma Wedana mencapai ribuan orang. Jumlah tersebut meningkat setiap hari pelaksanaan karena masyarakat terus berdatangan untuk ikut serta.

Gana menjelaskan, rangkaian Karya Ngasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel telah dimulai sejak Minggu (18/10), dengan puncak karya pada Rabu (21/10).

Puncak karya tersebut diawali dengan prosesi mundut (memikul) barang suci berupa Eteh-Eteh Bhatara Lingga dari Griya Karang Tampakgangsul menuju lokasi upacara di Pantai Mertasari.

Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan Ngadegang Puspa Lingga, Melaspas Puspa, dan Mepurwa Daksina. Dalam prosesi Mepurwa Daksina, peserta mengelilingi tempat upacara sebanyak tiga kali sebelum menjalani tahapan ritual berikutnya.

Salah satu bagian yang memiliki makna simbolis adalah menginjak kepala kerbau sebelum naik ke tempat upacara. Menurut Gana, prosesi tersebut menjadi simbol kendaraan untuk mengantarkan roh menuju surga.

"Setelah mepurwa daksina dan sebelum naik ke peyadnyan (tempat suci), ada ritual menginjak kepala kerbau. Itu sebagai simbol kendaraan untuk mengantarkan roh ke surga," jelasnya.

Seluruh prosesi dipuput (ditutup) oleh para sulinggih sesuai dengan tata cara dan tuntunan agama Hindu. Rangkaian tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Atma Wedana yang dijalankan oleh keluarga besar griya.

Bagi Gana, memungkur merupakan upacara besar dalam rangkaian penyucian roh. Karena itu, persiapannya membutuhkan waktu panjang dan keterlibatan banyak pihak.

Gana menuturkan, persiapan karya kali ini mulai dibicarakan sejak akhir Mei 2026. Ida Pedanda yang menjadi bagian dari latar belakang pelaksanaan upacara tersebut meninggal dunia sekitar April, sementara upacara ngaben dilaksanakan pada awal Juni.

"Ini termasuk upacara yang besar untuk penyucian roh atau memungkur. Tingkatannya atas," ungkapnya.

Gana menambahkan, pelaksanaan Atma Wedana di lingkungan griya biasanya dilakukan setelah salah satu Ida Pedanda atau penglingsir (tokoh) griya meninggal dunia. Persiapan kemudian dilanjutkan setelah ngaben, dengan melibatkan keluarga dan masyarakat di sekitar griya.

"Kalau kami mengadakan acara ini ketika ada Ida Pedanda kami yang lebar (meninggal) atau penglingsir kami di griya yang lebar. Setelah itu biasanya sebulan, dua bulan setelah ngaben, kami mempersiapkan acara seperti ini," kata Gana.

Rangkaian upacara adat Atma Wedana atau memungkur di Griya Karang Tampakgangsul, Kamis (22/10/2026). Foto: Dok. Griya Karang Tampakgangsul

Setelah puncak karya, rangkaian Karya Atma Wedana Maligia Punggel berlanjut pada Kamis (22/10) melalui prosesi Pralina Puja, Pralina Puspa, hingga nganyut ke segara.

Rangkaian upacara kemudian dijadwalkan berakhir pada Sabtu (24/10) melalui prosesi Nyegara Gunung yang diawali dengan perjalanan menuju Pura Goa Lawah, dilanjutkan dengan Ngelinggihang Dewa Pitara.

Gana menjelaskan, Nyegara Gunung merupakan bagian dari rangkaian upacara yang dimaknai sebagai ungkapan terima kasih kepada penguasa laut dan gunung setelah seluruh prosesi utama dilaksanakan.

"Nyegara Gunung itu persembahan kepada segara, kepada penguasa laut dan penguasa gunung. Mengucapkan terima kasih, artinya upacara ini sudah berjalan sesuai dengan harapan kita semua," tuturnya.

Gotong Royong dan Pelestarian Tradisi

Karya Atma Wedana Maligia Punggel turut dihadiri oleh Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara.

Jaya mengatakan, pelaksanaan Pitra Yadnya memiliki makna mendalam sebagai bentuk bakti dan penghormatan kepada leluhur.

"Melalui upacara ini, kita tidak hanya menghormati leluhur, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan gotong royong. Semoga seluruh rangkaian karya membawa kerahayuan bagi semua, dan nilai-nilai luhur ini terus diwariskan kepada generasi penerus," ujar Jaya dalam keterangan yang diterima pada Kamis (22/10).

Dalam kesempatan tersebut, Jaya juga mengikuti prosesi Ngadegang Puspa Lingga. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali.