Menakar Modal Politik Gatot Nurmantyo dan Agus Yudhoyono di 2019

Dikotomi calon sipil dan militer hampir selalu mengemuka dalam setiap gelaran pemilu presiden, tak terkecuali untuk Pilpres 2019. Dalam sejumlah survei nama mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menempati peringkat teratas sebagai cawapres yang kebetulan memiliki latar belakang militer.
Lalu, bagaimana modal politik baik dari Agus dan Gatot sebagai cawapres potensial di 2019?
Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai Gatot dan AHY memiliki segmen pemilih yang berbeda. Menurut dia, Gatot mengantongi pemilih yang memang suka dengan gaya militer sedangkahnAHY memiliki modal elektoral yang lebih kuat dan beragam.
"Gatot ini pemilihnya sama dengan Prabowo. Mereka yang suka dengan gaya militer atau yang bersinggungan dengan militer. Dia adalah jenderal, yang memilih dia karena menggandrungi militer," ujar Yunarto ketika dihubungi kumparan (kumparan.com), Jumat (15/12).

Selain itu, pemilih Gatot juga termasuk kelompok Islam yang berseberangan dengan Jokowi. Yunarto menilai mereka melihat Gatot sebagai calon alternatif dari Jokowi.
Berbeda dengan Gatot, Yunarto menilai pemilih AHY lebih beragam dan kuat. Menurut dia, AHY punya segmen pemilih berbeda meski dia adalah eks militer.
"AHY punya market yang tidak sama dengan Gatot dan Prabowo. Yang dilihat dari AHY bukan dari militer, dia bukan jenderal. Dia punya captive market dari pemilih SBY dan itu tidak kecil," lanjut dia.
Yunarto mengatakan pemilih SBY sudah pasti akan berpindah dan memilih AHY dan massa ini bukanlah massa yang kecil. "Ada pemilih yang memang mengagumi SBY dan pemilih yang merupakan massa Demokrat. Jadi ini lebih pemilih yang tidak bisa dipandang sebelah mata," ujarnya.
Belum lagi, AHY punya segmen pemilih millenial yang memilihnya karena faktor fisik, masih muda, dan cerdas. "Pemilih ini beda dengan massa SBY dan Demokrat," ujarnya.

"Jadi AHY ini sudah punya partai, captive market SBY. Jadi AHY secara elektoral lebih besar. Kemudian Gatot ketika sudah tidak panglima maka dia tak punya kendaraan politik untuk berlari kencang. Berbeda dengan manuver yang dilakukannya ketika dia jadi panglima," tuturnya.
Ia memprediksi Gatot dapat bersaing ketat dengan AHY ketika mantan KSAD ini menjadi capres atau cawapres yang didukung oleh Prabowo. Jika ini terjadi, maka Gatot mengantongi modal politik tambahan berupa massa dan instrumen politik yang kuat.
"Gatot berpotensi besar andaikata Prabowo menjadi king maker dan melepaskan libido politiknya. Otomatis peluang Gatot sangat besar tapi kondisinya masih ada Prabowo. Gatot masih akan jadi bayang-bayang di bawah jenderal lain," ungkapnya.
